Tampilkan postingan dengan label Pengusaha sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengusaha sukses. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Oktober 2013

Indorama Corporation Kisah Perantau

Profil Pengusaha Sri Prakash Lohia



Prakash lahir di Kolkata, India, 11 Agustus 1956, datang ke Indonesia pada tahun 1973, sebagai pengusaha tekstil bersama ayahnya Mohan Lal Lahia, yang kemudian mendirikan perusahaan Indorama Synthetics. Prakash bersama saudaranya Anil Prakash Lohia mengembangkan polyester fiber melalui Indorama sebagai basis bisnisnya. Namun, dia bukan lah satu- satunya pebisnis India sukses, ada sederet nama beken lainnya. Dan, mereka masuk jajaran terkaya, baru lah ketika di Indonesia dirinya sesukses sekarang.

Tak disangka, dia adalah kakak ipar dari Lakshmi Mittal yang dikenal sebagai raja baja dunia. Prakash merupakan nama baru di dunia, dikenal memiliki kekayaan $2,65 juta, menjadikanya pengusaha terkaya Indonesia baru versi Forbes. 

Indorama merupakan cikal bakal semuanya, didirikan oleh sang ayah. Prakash tengah mencoba berbisnis bahan baku dimana instingnya benar betul. Ia mendirikan perusahaan polyester terbesar di dunia, menjadikan Indonesia sebagai basisnya. Bermula pabrik benang di 1976, perusahaan Indorama mencari bisnis lain sebagai bentuk ekspansi. Perusahaan mulai membuat polyester fiber, polyester bottle- grade (PET), hingga damar di 1995. 

Perusahaan yang induknya kini berada di Singapura, Indorama Corporation, menghasilkan berbagai produk. Indorama menghasilkan polypropylene, polyethylene, PET resin, poliested sampai sarung tangan medis. Saat ini pabrik dari perusahaan Indorama dapat dengan mudah ditemui di berbagai kota terutama di Jakarta. Bekerja sebagai induk, Indorama membawahi perusahaan lain dalam naungan satu group. Perusahaan PT. Indorama Synthetic, perusahaan pengolah petrokimia.

Lalu Indorama IPLIK, Indorama Shebin, dan ISIN Lanka, ketiganya menghasilkan benang pital. Perusahaan pembuat sarung tangan medis dibawahi oleh Medisa Technologies. Sejak 1995, Prakash melalui Indorama juga mulai melirik pasar real estate dibawah naungan Indorama Real Estate. Perusahaan real estate ini cukup berhasil mendapatkan beberapa penghargaan.

Tahun 2006 -an, Prakash berintegrasi dengan olefin plan di Afrika, mendirikan pabrik petrokimia terbasar di Afrika Barat dan terbesar kedua di Afrika.

Tahun 2009, Lohia bersaudara berhasil mengembangkan Indorama Synthetics menjadi perusahaan synthetic terbesar di dunia. Indorama Ventures dibentuk dengan penggabungan aset mereka. Di tahun yang sama, Indorama Ventures memutuskan melakukan go public melalui Bangkok Stock Exchange. Pada 2008, Indorama Corp membangun investasi ke negara lain, melalui Indorama Venture PCL, menjadi perusahaan polyester terbesar di dunia.

Prakash dan istrinya, Seema, memiliki dua anak Amit dan Shruti. Anak laki- lakinya, Amit berhasil menjadi magna cum laude dari University of Pennsylvania’s Wharton School of Business. Dia menjadi Menejer Direktur untuk Indorama Corporation and direktur perusahaan lainnya. Putrinya, Shruti Hora, lulus dari Babson Collage dan sekarang tinggal di Singapura.

Selasa, 22 Oktober 2013

Bimbingan Belajar SSC Melaju Dengan Mutu

Profil Pengusaha Sony Sugema 

  

Maraknya bisnis pendidikan memberikan harapan baru bagi masyarakat. Mereka membutuhkan pendidikan alternatif ketika kesemrawutan pendidikan formal. Banyak bisnis pendidikan menawakan konsep waralaba mencoba berkembang lebih cepat. Tidak semua berhasil, beberapa malah layu sebelum berkembang. Tapi ini tidak mematahkan semangat pebisnis daerah. Salah satu contoh pengusaha sukses itu, ya, Sony Sugema, adalah pria lulusan SMA Negeri 3 Bandung.

Dia memulai bisnis pendidikan lebih awal. Semenjak ditinggal sang ayah ketika di bangku sekolah itu, ia mulai berpikir bagaimana menjadi mandiri. Ia mulai menjalankan bisnis les privat, dimulai teman- temannya sendiri. Biaya lesnya hanya Rp.5000 per- bulan tapi disinilah titik balik ide bisnisnya Pengalaman mengajar membuatnya semangat membangun sebuah lembaga pendidikan sendiri. Bermodal 1,5 juta, Sony mencoba membangun idenya yang kemudian bernama Sony Sugema Collage (SSC).

Ia menggunakan semua modal untuk membayar pegawai dan menyewa sebuah ruangan belajar. Awalnya, lembaga pendidikan miliknya hanya fokus persiapan menghadapi ujian masuk universitas. Bermodal metode fastest solution dan learning is fun, SCC berupaya membantu calon mahasiswa baru.

Minat Sony akan pendidikan tumbuh dari SMA hingga kuliah di jurusan teknik mesin ITB. Ia memutuskan mengajar sebelum mendirikan SCC; ia mengajar matematika di salah satu SMA Swasta. Berlanjut, dia mengajar di lembaga pendidikan hingga membangun sendiri. Dia percaya melalui metode SCC, mampu membantu siswa yang sering menganggap matematika atau fisika sebagai momok. Metode belajar miliknya ternyata berhasil menghasilkan prestasi siswa.

Ini menjadi media pemasaran tersendiri yang cukup efektif. Siswa siswa yang mengikuti bimbingan SCC semakin bertambah, sampai 1991 Sony memutuskan membuka cabang di Jakarta. Memon tersebut menjadi hal tersendiri bagi tumbuhnya bisnis SSC di Indonesia. Setelah dua puluh tahu, ia telah mereguk keberhasilan bisnis itu sendiri. Ia memiliki empat perusahaan berbasis pendidikan Segudang penghargaan menghampirinya atas keberhasilan mengembangkan bimbingan belajar ternama di Indonesia.

Sony Sugema sendiri selalu memiliki tekat kuat untuk berjalan langkah demi langkah hingga mencapai puncak keberhasilan.

Minggu, 20 Oktober 2013

Dell Inspirasi Dunia Bisnis PC

Biografi Pengusaha Michael Dell 



Michael Dell kelahiran 23 Februari 1963, sudah lah sejak lama tertarik dengan teknologi dan gadget. Ia menikmati bagaimana mereka bekerja. Di umur 15 tahun, Michael akhirnya membeli komputer pertamanya, yaitu komputer buatan Apple. Ya, berawal komputer Apple, dia yang kala itu hobi teknologi memutuskan membongkar Apple sendiri. Ia mencoba mencari tau bagaimana komputer itu bekerja. Dari kuliah, Micheal membangun komputernya sendiri dengan merek Dell komputer.

Dell meluncurkan revolusi PC (Personal Computer) tahun 1980, menciptakan Dell komputer yang diciptakan di kamarnya. Ia membangun PC di kamar asrama di University of Texas dan capat berkembang menjadi perusahaan super besar -Dell komputer. Lalu 1992, setelah 8 tahun Dell dibangun, Michael Dell menjadi CEO termuda di 500 perusahaan terbaik. Kesuksesannya bukan hal mengagetkan jika dilihat bagaimana sosok orang tuanya.

Ibunya adalah seorang pamain saham, sedangkan sang ayah adalah orthodontist, yang memaksa anaknya masuk ke dunia kesahatan. Tapi, Dell muda justru tertarik labih awal di komputer dan bisnis. Pekerja keras, ia bekerja menjadi pembersih piring di restoran China, menyimpan uangnya untuk bisnis lebih besar. Di umur 12 tahun, dia memiliki uang sendiri mengasah ilmu komputernya lebih dalam. Dell langsung mempraktikan kebisaanya menjadi pebisnis langganan the Houston Post, tentunya melalui komputer.

Ia merubah data menjadikan itu $18.000 dalam satu tahun di awal sekolah menengah. Tertarik tumbuhnya gadget dan teknologi, di 15 tahun, Dell baru bisa membeli komputer Apple pertamanya.

"Melalui rasa ingin tahu ini dan melihat peluang dengan cara baru yang kami petakan dalam jalannya Dell. Selalu ada kesempatan untuk membuat perbedaan."

Saat itu di kampus ketika ia menemukan bisnis teknologi akan meledak. Dunia PC masih begitu muda ketika Dell masuk dan melihat tidak ada penawaran langsung ke orang- orang. Mereka harus melewati perantara serta korupsi panjang. Ia ingin masuk lebih dalam melalui idenya penjualan langsung dan layanan purwa- rupa. Modal $1.000 digunakannya untuk berbisnis membangun perusahaan dari nol besar. Dia tidak hanya jago mesin komputer, tapi kemampuan marketing ditambah harga yang murah.

Tak lama kemudian, ia setelah memiliki uang lebih banyak, Dell memutuskan memilih drop-out; melanjutkan bisnis PC dari luar sana. Bisnisnya tak dinyana ternyata maju pesat, mengejutkan hasilnya $6 juta di tahun pertama. Selama tahun 2000, Dell menjadi miliarder dan perusahaanya di 34 negara dan memiliki lebih dari 35.000. Tahun berikutnya, ia telah melebihi Compaq komputer di segi penjualan. Keseluruhan, penjualan Dell komputer dalam 20 tahun berhasil menjadi bisnis tersukses di planet bumi.

Perusahaan ini bahkan tercatat pernah mengalahkan bisnis kelas Titan yaitu Wal- Mart dan General Electric. Cerita sang penemu Dell dituliskan di sebuah buku " Direct from Dell: Strategies That Revolutionized the Industry".

Perusahaan Dell


Dell merupakan perusahaan multi nasional bermarkas di Round Rock Texas, United State. Perusahaan yang menjual, mengembangkan, memperbaiki dan mensuport produk sejenis dan servis tentunya. Membawa nama pemiliknya, Dell komputer memiliki 103.300 pekerja di seluruh dunia. Dell awalnya menjual komputer, software, server, penyimpanan data, kamera, mp3 player dan banyak lagi. Dikenal pula menerapkan konsep penjualan "build to order", memberikan spesifikasi khusus bagi pembeli.

Hingga beberapa tahun lalu, Dell hanya menjual hardware hingga akuisisi Perot System, akhirnya perusahaan memilih masuk bisnis IT servis lebih lagi. Akusisi yang menambah kemampuan perusahaan manangani hal- hal seperti solusi bagi komputer. Mereka labih paham kebutuhan komputer pembeli daripada siapa pun melalui sistem tersebut.

Awalnya Dell adalah perusahaan privat milik Michael Dell bernama PC's Limited, ketika berkuliah di University of Texas at Austin. Kamar asrama di kampus membawa perusahaan yang menjual komputer IBM PC Compatible. Dia kemudian drop- out, mengambil $300.000 modal kapital keluarga. Di 1985, akhirnya perusahaanya menjual produk pertama, sebuah komputer desain sendiri, the Turbo PC, kemdian dijual $795.

PC's Limited menempatkan dirinya manjadi bisnis langsung, menjual komputer berdasarkan pilihan dan dijual secara langsung. Perusahaan beromset kotor sekitar $75 juta di awal bisnis. Perusahaan merubah namanya menjadi Dell Computer Corporation di awal 1988 dan berekspansi secara global. Di Juni 1988, nilai Dell berkembang dari $30 juta menjadi $80 juta, kemudian perusahaan mengeluarkan penawaran saham publik Juni 22, menghasilkan $3,5 juta saham dijual $8,50 per- saham.

Di 1999, Michael Dell menjual komputernya melalui Wal-Mart menambah penjualan senilai $128 juta. Tetapo, konsultan keuangan Dell, Kevin Rollins menyarankan Dell menarik keputusanya karena adanya kemungkinan kerugian jika dilakukan secara jangka panjang. Tahun 1999- 2000, Dell menikmati bisnisnya maju stabil berbagi pasar dengan para kompetitor.

Dell mendapat ranking 1 selama dua tahun, penghargaan sebagai perusahaan terbaik di teknikal suport dan tentunya pelayanan pelanggan. Di 1996, perusahaan mulai menjual PC melalui website perusahaan, dan di 2001, mulai menjual produk seperti televisi, handhelds, digital audio player, dan printers. Dell mengakuisisi pertama kali  ConvergeNet Technologies sekaligus melewati Compaq dari segi pabrikan PC di 1999.

Baca juga: Jasa Pembuatan Website makassar

Tahun 2003, Dell merubah nama menjadi hanya Dell.Inc yang sebelumnya Dell Computer Corporation. Ini menunjukan keseriusan di bidang lain selain komputer.

Micheal Dell memutuskan keluar sebagai CEO di tahun 2005, meninggalkan posisi untuk Kevin Rollins, yang telah menjadi COO dan president sejak 2001. Dibawah Rollins, Dell melepaskan pengaruh Microsoft dan Intel pada produk milik Dell di bisnis PC. Selama waktu itu, Dell mengakuisisi Alienware, memperkenalkan produk baru di Dell. Untuk menghindari cross market, Dell memutuskan mengambil perusahaan Alienware sebagai ekuitas tersendiri, menjadi perusahaan dibawah Dell.Inc.

Jumat, 18 Oktober 2013

Profil Purdi E Chandra Pemilik Primagama Jaya

 Sejarah Berdirinya Primagama

  

Pengusaha terkenal Purdi E Chandra kelahiran Lampung, 9 September 1959, dan menjadi sosok pebisnis yang non konvensional melalui perusahaanya Primagama. Dia dikenal suka berbisnis semenjak kecil bahkan sejak duduk di bangku SMP. Bisnisnya meliputi dari beternak bebek dan ayam, menjual telurnya ke pasar. Sosoknya dikenal karena perjalanan bisnis, pendidikan, dan kegagalan. Ia memang sering membagikan ilmu bagaimana jadi pengusaha sukses berani mengambil resiko.

Hidup dari keluarga tidak mampu membuatnya selalu berpikir jau kedepan. Purdi memang merupakan sosok pekerja keras, mudah bergaul, serta cerdas. Terbukti selama membangun bisnisnya dia dikenal tercatat sebagai mahasiswa empat fakultas sekaligur di dua perguruan tinggi berbeda. Namun jiwanya merasa tidak mendapatkan apa- apa, dia memilih melanjutkan bisnisnya, keluar dari kampus.

Bisnisnya utamanya adalah bimbingan belajar yang dikerjakan jauh sebelum kuliah. Purdi bersama beberapa temannya mendirikan Lembaga Test Primagama. Dia yang juga tercatat mahasiswa di UGM, Yogyakarta, merasa mampu membuat sebuah sistem sendiri. Purdi mencoba membantu calon mahasiswa baru agar bisa masuk perguruan tinggi negeri. Dengan modal hanya Rp.300 ribu, mereka resmi mendirikan Primagama di 10 Maret 1982, di Yogyakarta.  

"Di universitas entrepreneur, tidak ada nilai, tidak sertifikat, atau title," ucapnya. Purdi selalu menegaskan prinsip itu. Ayahnya, Mujiyono dan ibunya, Siti Wasingah sendiri selalu mensuport keinginan anaknya untuk mandiri. Dia berangkat merantau mencoba melihat kelemahan dirinya. Pelan pelan kelemahan diperbaikinya, dia mengaku kini telah tahan banting.

Bisnisnya unik di bidang pendidikan ketika ia sendiri tidak menyelesaikan pendidikan. Ia memulai dari menyewa ruang kecil dan disekat menjadi dua. Murid pertama hanya dua orang yaitu tetangganya sendiri. Biaya les hanya Rp.50 ribu untuk dua bulan. Kalau tidak ada les, maka Primagama akan mengembalikan uangnya. Dua tahun kemudian nama Primagama mulai dikenal. Kunci bisnis Purdi yaitu melihat tingginya antusias siswa SMA yang ingin masuk perguruan tinggi negeri ternama.

Itu menjadi ide cemerlang, berbekal pengalaman masuk UGM, dia dan temannya fokus memecahkan soal- soal masuk perguruan tinggi. Semenjak kesuksesan itu, nama Primagama mulai banyak ditiru, ia pun membutuhkan inovasi baru untuk bertahan di bisnis bimbel. 

Ia membuat slogan "Ikut Primagama pasti masuk perguruan tinggi, atau uang akan kembali."

Purdi mencari anak- anak cerdas di bidangnya, kemudian mengangkat mereka sebagai pengajar. Fokusnya memastikan 90% bisa masuk perguruan tinggi negeri. Usaha Primagama jatuh bangun, dari satu otlet menjadi 200 oulet di 106 kota. Pendapatanya sekarang hingga 70 miliar loh. Selain itu juga membuka peluang bisnis sejenis menjamur di Indonesia. Primagama sebagai pelopor kini telah berubah menjadi perusahaan holding, atau perusahaan induk bagi usaha- usaha lain.

Mereka mebawahi 20 perusahaan berbeda bergerak diberbagai bidang; pendidikan formal, pendidikan non-formal, telekomunikasi, biro perjalanan, rumah makan, supermarket, asuransi, lapangan golf dan lain sebagainya. Ia juga disibukan kegiatan berorganisasi sekaligus sebagai pimpinan perusahaan. Purdi sendiri aktif menjadi ketua Perhimpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) cabang Yogya dan pengurus Kamar Dagang Industri Daerah (KADINDA).

Selain itu ia juga tercatat sebagai anggota MPR RI utusan daerah DIY. Purdi lalu mendirikan Entrepreneur University (EU) yang hanya memakan waktu enam bulan dan kuliah dua minggu. PT. Primagama Bimbingan Belajar memiliki 694 cabang, sebagian besar merupakan konsep waralaba. Hari Nuryanto, selaku Direktur Marketing dan Pengembangan Bisnis, mengatakan cabang Primagama sudah ada di 255 kabupaten kota. Dengan rincian beberapa merupakan waralaba dengan masa kontrak 5 tahun.

Ia mengatakan Primagama beridiri sejak 1982, mulai diwaralaba di 2001. Dia mengatakan total tiap cabang Primagama mampu menampung 200.000 murid.

Kamis, 17 Oktober 2013

Es Teler 77 Waralaba Melegenda Indonesia

Profil Pengusaha Sukyatno Nugroho 



Bagaimana kah kisah berdirinya Es Teler 77. Siapa sih yang bisa menolak segarnya es teler, ketika musim panas tiba dibawah sinar matahari. Sukses bisnis waralaba memang tidak ada matinya terutama menyangkut makanan dan minuman ini. Es Teler77 menjadi pelopor bisnis sejenis menjamur di seluruh dunia. Didirikan oleh sosok  Sukyatno Nugroho atau Hoo Tjie Kiat, berawal sebuah keputus asaan. 

Sukyat sendiri mendapatkan ide bisnis dari sang mertua (Ibu Murniati Widjaja) setelah menang satu lomba minuman. Sukyat melihat peluang ketika itu, dan membangun bisnisnya di 7 Juli 1982. Bisnis es teler yang kemudian diberi nama Es Teler77 bukan yang pertama kali. Dia pernah berbisnis jual beli tanah, makelar SIM, pemborong bangunan, sampai bisnis salon. Sayang semua bisnisnya gagal, dia tak ingin mengulang kegagalan lagi. Dia fokus pada Es Teler77, bisnis barunya yang tengah bergairah.

Nama 77, ia berkata mudah diingat, dan diharapkan membawa hoki saja. Es Teler sendiri menunjukan produk unggulan miliknya. Ucapannya sangat tepat, nama itu mudah diingat menjadikan produknya dikenal secara luas dan bertahan di hati pembeli. Sebuah warung depan emperan toko menjadi saksi keseriusan bapak satu ini. Ia merubahnya menjadi bisnis waralaba sehingga mudah pemasarannya. Dia menguasai pasar dan mampu mempertahankan bisnisnya hingga 5 tahun.

Tepat tahun 1987, ia membuka pembukaan gerai Es Teler77 pertama di Solo. Petumbuhan bisnisnya sangat lah cepat, kini Es Teler77, telah memiliki 180 gerai dipenjuru pusat perbelanjaan dan toko.

Penerus bisnis


Mulai dikenalnya nama Es Teler 77, membawa berita yang tidak menyenangkan terutama bagi para pebisnis waralaba. Pada tahun 2007, Sukyatno kembali ke Tuhan Yang Maha Esa. Melalui PT. Top Food Indonesia, Andrew Nugroho yang juga anak dari Sukyatno, memilih mengembangkan merek Es Teler 77 dan berhasil. Sekalipun bisnis waralaba mulai menggeliat, Andrew fokus melalui branding. Ia mencoba mempertahankan kualitas produknya dengan beberapa inovasi.

Es Teler 77 mulai memperkenalkan makanan pendamping, seperti gado- gado, rujak, mie kangkung, dan nasi gorung kangkung. Ia mengaku menu tradisional merupakan andalan dan sesuai dengan merek esnya. Dia berbicara mengenai makanan tradisional yang kini sulit ditemukan. Andrew berharap dengan ini, membuat Es Teler77 memiliki segmentasi khusus. Ia mencoba menambah loyalitas penggemar Es Teler77 melalui berbagai media.

Baca juga: https://sejasaku.net/kontraktor-jasa-bor-pile-semarang/

Salah satunya, dia membuat fasilitas kartu anggota bagi penikmat Es Teler77. Ia juga menciptakan trobosan melalui kartu klub juara, memberikan mereka sebuah diskon khusus. Atas kerja kersanya Sukyatno dikenal mendapatkan berbagai penghargaan dan Es Teler77 sekarang telah menjadi salah satu merek dagang terbaik. Waralaba di Indonesia sendiri, saat ini, sudah mencapai 196 buah yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia.

Selain itu, 77,95 % bahan baku Es Teler sudah menggunakan bahan dasar lokal. Dia yang sebelumnya cuma memiliki 8 gerai di luar negeri seperti di Malaysia sejumlah 3 gerai, Singapura 2 gerai sedangkan Australia 3 gerai. Tahun ini ketika artikel ini ditulis, khusus untuk India, setidaknya akan dibangun 5 gerai dan 30 gerai akan dibuka di dalam negeri dengan nilai investasi Rp 1 miliar hingga sampai Rp 1,5 miliar per- gerainya.

Peter Sondakh Rajawali Terbang Tinggi

Biografi Pengusaha Peter Sondakh



Awalnya Peter Sondakh beralih dari semula berbisnis properti di saat mengalami kelesuan, ke bisnis batu bara di era- reformasi. Bukan tanpa perhitungan tepat, Peter Sondakh melalui PT. Golden Eagle Energy nya berhasil  masuk industri bahan tambang. Dia menjadi orang terkaya nomor 8 versi Forbes, total kekayaanya sekitar Rp. 24, 7 triliun. Ia adalah CEO Rajawali Group, perusahaan yang berjaya dari masa orde baru dan reformasi.

Peter dilahirkan di tahun 1953. Ayahnya sudah memulai bisnisnya sejak 1954, memproduksi minyak kelapa serta aktif mengekspor kayu. Tahun 1954, ayahnya merupakan inspirasi bisnisnya, meninggal dan akhirnya mewariskan bisnis kecilnya. Dia yang baru berumur 20 tahun harus mengambil alih bisnis mencari nafkah untuk keluarga. Dia harus membiayai ibu serta empat orang saudara perempuan. Ia yang berumur 22 tahun, mengambil alih bisnis minyak kelapa dan ekspor kayu, mendirikan PT. Rajawali Corporation.

Melalui Rajawali Corporation, ia memulai bisnis properti sebagai bentuk perluasan usaha yang ditekuni ayahnya. Peter mencoba memasuki korporasi besar, berkat keahlian kumonikasinya ia dekat dengan orde baru. Menyadari bisnis properti tidak menguntungkan, tahun 1984, ia menggandeng Bambang Trihatmodjo, putra dari president Soharto, menjalin kerja sama. Melalui PT. Rajawali Corporation milik keluarga cendana. Peter Sondakh, bersama- sama, keduanya lantas mendirikan stasiun televisi pertama RCTI.

Bersama mereka juga membangun bisnis hotel Grand Hyatt di tengah Jakarta. Sementara itu, ia juga fokus dengan bisnis pribadinya dibawah perlindungan orde baru. Dia mengambil alih bisnis gagal PT.Bentoel Group, resmi memasuki bisnis rokok. Pada 1999, PT.Bentoel mulai memperlihatkan geliat baik memberikan keuntungan. Berlanjut, ia yang melihat potensi pariwisata mendirikan bisnis Lombok Tourism Development Corporation.

Melalui Rajawali juga, ia membangun kemitraan mengembangakan Hyatt Hotel dan juga Novotel Sheraton menjadi jaringan hotel bintang lima. Pada tahun 2009, perusahaan mengakuisisi jaringan hotel berbintang lima lain di luar Indonesia. Ini peluang besar dengan Surfers Paradise Resort Hotel Pty. lmtd dari Australia. Perusahaan tersebut merupakan jaring hotel di Australia yang baru- baru ini membangun St. Regis Resort di Bali.

Krisis moneter


Krisis moneter menenggelamkan nama Peter Sondakh, tapi berkat fokusnya pada tiga bisnis utama (properti, pertambangan dan perkebunan); ia berubah menjadi orang terkaya di Indonesia. Ia menduduki ranking ke 8 se Indonesia. Dia dikenal sebagai investor melalui aksinya jual beli perusahaan. Peter dikenal melalui PT. Rajawali Coporation, memiliki kemampuan analisa dan kecepatan menentukan bisnis selanjutnya. Meski sulit mengenalnya sebagai pribadi tapi bisnisnya penuh perhitungan.

Perusahaan holdingnya tidak memiliki situs resmi yang memaparkan profil pemilik secara pribadi. Tapi, dia sudah dikenal secara sepak terjangnya sebagai pengusaha, dia dikenal sabagai pebisnis perhotelan, rokok, gedung perkantoran, telekomunikasi dan media, ritel, farmasi, pariwisata, hingga sampai transportasi. Sekali lagi Peter merupakan sosok yang menarik melalui sepak terjangnya. Kita tidak pernah tau, bagaimana dia melihat suatu bisnis sepenuhnya.

Rajawali memiliki caranya selalu bertahan. Meski krismon, Peter melakukan serangkaian divestasi (melepas saham kepemilikan). Pada 2005, dia melepas saham atas Exelcomindo yang sebenarnya bagian dari Telekom Malaysia Group sebanyak 27,3%. Langkah selanjutnya, Rajawali melepas saham untuk 15, 97% atau senilai US$.438 juta untuk dana segar. Dana tersebut digunakan kembali untuk investasi 24, 9% di PT. Semen Gresik.

Saham di PT. Semen Gresik membuat Rajawali semakin kokoh di tahun- tahun selanjutnya. Pemerintah yang fokus terus menggenjot proyek pembangunan infrastrukur dan disanalah semua bermuara; PT. Rajawali Group akan ikut ambil bagian dari kue keuntungan pembangunan. Tahun 2006, Rajawali sudah masuk ranah sawit bahkan sebelum melepas saham Exelcomindo. Ia melalui Rajawali, berhasil membeli saham PT. Jaya Mandiri Sukses Group lalu memulai bisnis sawit kerika bagus bagusnya.

Rajawali memiliki saham di perusahaan tersebut dan menikmati harga kelapa sawit yang kala itu masih tinggi. Masuk di pertambangan, Rajawali memilih group usaha PT. International Prima Coal di 2007. Satu tahun kemudian, Rajawali melompat dari Kalimantan ke Papua. Perusahaan Rajawali masuk ke PT. Tandan Sawit Papua. Rajawali membuka 26.300 hektar kebun kelapa sawit di tanah Papua. Yang terakhir, perusahaan melepas saham PT. Bentoel yang dimilikinya dari awal usaha.

Mungkin, Rajawali melihat ketatnya kompetisi. Perusahaan menjual saham senila nilai Rp.3,35 triliun kepada British American Tobacco (BAT).

"Kami ingin memfokuskan pada bidang properti, pertambangan, dan perkebunan," ujar Darjoto Setyawan, Direktur Pengelola Pengembangan Bisnis Rajawali Group. Ketiga pilar tersebut, Rajawali ingin kembali ke awal.

Siapa Peter Sondakh? Itu sudah dijelaskan diawal artikel kami. Lebih dekat, putra sulung B.J.Sondakh sukses melanjutkan bisnis sang ayah, diperkirakan bisnis semenjak kecil dan memiliki saham atas PT. Bumi Modern sejak 1976. Cikal bakal Rajawali ketika dirinya mulai membesarkan bisnis PT. Rajawali Wira Bhakti Utama. Perusahaan sang ayah yang dia miliki sepenuhnya di 1993. Ia merupakan pelopor tayangan televisi swasta.

Pusat Data Business Indonesia (PDBI), periode 1976-1996, menyebut Rajawali memiliki lima sektor usaha, yaitu: pariwisata, transportasi, keuangan, perdagangan, dan jasa telekomunikasi. Tak tanggung-tanggung di sektor pariwisata mereka memiliki 16 perusahaan perhotelan dan kawasan wisata. Di sektor transportasi punya tiga perusahaan transportasi, yakni: Taxi Express, Rajawali Air Transport (chartered flight), dan pelayaran feri rute Batam-Singapura.

Di sektor keuangan, Rajawali memiliki 7 anak usaha, antara lain PT Jardine Fleming Nusantara sebuah sekuritas. Adapun di sektor perdagangan ada 9 perusahaan, misalnya Metro Department Store dan jaringan ritel farmasi Apotek Guardian. Di sektor telekomunikasi, Rajawali pernah memiliki Excelcomindo Pratama, yang dioperasikan sejak 1996 yang kemudian dijual ke Telekom Malaysia. Ia merambah industri kimia memproduksi polyester chip dan PET film lalu mendirikan PT Rajawali Polindo.

Rajawali ikut membangun Plaza Indonesia bersama Bimantara, Ometraco dan Grup Sinar Mas. Bahkan, Peter memiliki andil di PT. Gemanusa Perkasa (perdagangan umum), PT Gemawidia Statindo Komputer (distributor komputer), PT. Asiana Imi Industries (produsen stuff toys), dan PT Japfa Comfeed Indonesia; ada 13 perusahaan yang diakuisisi dan 6 perusahaan didivestasi.

Di sisi lain, grup usaha ini memiliki andil (penyertaan saham) di 13 perusahaan. Adapun total anak usaha dan perusahaan terafiliasi yang dimiliki Peter mencapai 49 perusahaan. Sebagai holding company di lingkungan Grup Rajawali, selain PT Rajawali Corporation adalah PT Danaswara Utama.

Bisnis Terbaru


Awal tahun 2005, Peter membuat kejutan. Aksi korporat yang atraktif adalah ketika ia menjual 27,3% sahamnya di Excelcomindo yang sebenarnya termasuk salah satu bintang industri telekomunikasi nasional  kepada Telekom Malaysia Group pada 2005. Nilai saham tadi setara US$ 314 juta, langkah divestasi ini berlanjut pada 2007 ketika Rajawali melepaskan 15,97% sahamnya di Excelcomindo senilai US$ 438 juta kepada Etisalat (perusahaan telekomunikasi Uni Emirat Arab).

Dana dari penjualan saham ini kemudian digunakan untuk membeli 24,9% saham PT Semen Gresik senilai US$ 337 juta dari Cemex (Cementos Mexicanos). Tahun 2006, Rajawali terjun ke bisnis perkebunan sawit yang beroperasi di Kalimantan Timur dan Sumatera yang dalam sub-holding PT Jaya Mandiri Sukses Group. Sementara itu, industri pertambangan di Kalimantan dirambah grup usaha ini tahun 2007 melalui PT International Prima Coal.

Di 2008, melalui PT Tandan Sawita Papua, Rajawali membuka perkebunan kelapa sawit seluas 26.300 hektare di Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom. Grup Rajawali juga memperluas jaringan hotel di kawasan Indonesia seperti jaringan hotel bintang lima Sheraton di Bali, Lampung, Bandung dan Lombok, serta di Kuala Lumpur dan Langkawi. Masih ditambah dengan pengembangan Hotel Saint Regis (Bali) dan Novotel (Lombok). Bisnis pertambangan pun makin diseriusi Rajawali.

Pada tahun 2009, Rajawali resmi mengakuisisi 37% saham Archipelago Resources (yang mengelola tambang emas) seharga US$ 60 juta. Kemudian, Rajawali membentuk perusahaan patungan dengan PT Bukit Asam di Kal-Tim.Di mata Philip Purnama, Direktur Spinnaker Capital, Grup Rajawali dinilainya sebagai kelompok usaha yang smart dan oportunistis. Mereka sangat jeli melihat peluang bisnis dan sangat ahli dalam hal akuisisi aset-aset industri potensial. Bahkan, Philip berani menilai, komandan grup usaha ini, Peter Sondakh, lebih baik dari Warren Buffett.

Seakan semua yang disentuhnya berubah jadi emas seperti Raja Midas tambahnya.