Tampilkan postingan dengan label Orang terkaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Orang terkaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 November 2013

Bisnis Rokok Kretek Djarum Triliunan

Biografi Pengusaha Robert Budi Hartono



Robert Budi Hartono ternyata kelahiran Kudus, Semarang, tanggal 18 April 1941, Robert Budi Hartono atau yang memiliki nama asli Oei Hwie Tjhong, merupakan anak kedua pendiri perusahaan Djarum Oie Wie Gwan. Perusahaan yang sebelumnya bernama Djarum Gramophon, sebuah usaha kecil dibeli oleh ayahnya di 1951. Selain bisnis Djarum, bersama kakaknya, Michael Bambang Hartono, tercatat memiliki saham lima puluh persen di Bank BCA.

Selain itu, mereka juga memiliki 65.000 hektar perkebunan sawit di Kalimantan. Ia dan kakaknya, Michael Hartono telah memulai semuanya di bisnis keluarga. Robert di usia 20 tahun menerima warisan sang ayah. Kedua bersaudara bahu membahu membangun kerajaan bisnis hingga sekarang. Mereka mendapatkan warisan walau tidak sempurna berjalanan. Bisnis mengalami cobaan di awal, keduanya menerima bisnis tersebut ketika pabriknya mengalami kebakaran.

Ayahnya menginggal di tahun 1960- an, tak lama setelah kebakaran di pabrik Djarum. Kala itu, Robert harus menghadapai prasangka masyarakat atas orang keterunan Tionghoa. Ia dan kakaknya akhirnya tak ragu untuk melepaskan pendidikannya di Universitas Diponegoro. Mereka memutuskan menghadapi segala hal prasangka bermodal bisnis keluarga. Dengan semangat pantang menyerah, kedua bersaudara memilih fokus mengembangkan bisnis rokoknya.

Mereka bahkan mendatangkan para teknisi asing demi memberi pelatihan pekerja di Djarum. Hasilnya, keduanya menyelamatkan bisnis keluarga tersebut. Mereka menjadikan Djarum fokus tidak hanya membuat tapi meriset pasar. Djarum mulai melirik pangsa pasar dunia terutama di kawasan Amerika. Tercatat Djarum menghasilkan 48 milyar per- tahun atau 20% rokok di pasaran. Pertumbuhan seperti ini membuat perusahaan mudah melakukan ekspansi bisnis lain.

Pabriknya mulai mengadaptasi mesin rokok putih memproduksi rokok kretek. Djarum juga mengadopsi pembukuan modern, lalu memperbaiki manajeman. Sejak 1972, mereka bahkan mengembangkan merek merek khusus dijual ke luar negeri. Hasilnya mereka mulai memasarkan andalan merek Djarum Super diluncurkan di 1984. Enam tahun dilalui, Djarum telah menguasai 31% pasar rokok nasional atau menjadi perusahaan rokok kretek nomor 1 di Indonesia.

Keberhasilan tersebut tampaknya tidak membuat kemitraan mereka terpecah. Keduanya semakin solit dalam berbisnis dan berinvestasi. Tercatat jika ada nama Robert Budi Hartono maka disana akan ada biogafi sang kakak, Michael Bambang Hartono.

Ekspansi bisnis


Grup Djarum dikenal menguasai bisnis di bidang lain seperti perbankan dan juga media. Melalui kepemilikan saham mayoritas, Grup Djarum menguasai BCA, tepatnya di tahun 2008, Grup Djarum telah menguasai 51 persen yang berarti saham mayoritas. PT. Bank Central Asia menurut Bank Indonesia memiliki aset sebesar 1,3 triliyun.. Dia dan sang adik melalui Farindo Holding Ltd. yang dibeli melalui Alaerkan, membeli saham BCA senilai 51% tersebut.

Keduanya memiliki saham atas Farindo 92, 18 % salain perusahaan asing Amerika, Farallon dengan nilai saham sekarang 7, 82 %. Sebelumnya, Alaerkan hanya pemilik 9, 36% sedangkan Farallon pemilik saham mayoritas 90, 64%. Berubahnya komposisi saham, ini membuat sacara langsung Alaerka lah pemilik saham mayortias Farindo manjadi penguasa BCA.

Farindo sendiri merupakan perusahaan investasi berpusat di Mauritius. Selain BCA, Grup Djarum juga aktif melakukan bisnis lain tapi serupa. Perusahaan memiliki dua buah bank tepatnya yakni Bank Haga dan Bank Hagakita. Di 13 Juli 2006, keduanya resmi dijual ke Rabbobank Group yang berpusat di Belanda. Bank Haga dan Hagakita memiliki total aset 3, 97 triliun per- 31 Desember 2005. Keduanya memiliki 78 kantor cabang terbagi di Jawa Tengah, Bali Sumatra, dan total karyawan 1.537.

Grup Djarum memilih fokus di BCA melalui modal kapitalis Rp.61,665 triliun.

Lainnya, Grup Djarum masuk ke bisnis properti melalui Grand Indonesia sedangkan elektronik melalui merek terkenalnya Polytron. Grand Indonesia merupakan kawasan bisnis mewah tepat di jantung ibu kota, kawasan Hotel Indonesia, Djakarta. Djarum menggabungkan fungsi pusat belanja, perkantoran, apartment, dan hotel sekaligus. Untuk kawasan belanja dikutip website Grand Indonesia, mereka menawarkan pusat belanja 250 ribu per segi delapan lantai.

Baca juga: Bisnis Pembuatan Website makassar

Sedangkan Hotel, Djarum memilih mendesain ulang Hotel Indonesia yang sudah ada sejak 1960. Hotel yang dulunya bernama Hotel Indonesia Kempinski oleh Kempinski Group, memiliki 280 kamar yang berstandar Internasional. Hotel yang dikenal setara  The Raffles Singapura dan The Oriental Bangkok. Yang tak kalah penting, menara BCA yang sejajar pusat belanja Grand Indonesia. Salah satu menara tertinggi di Jakarta dengan total lantai 11 ditambah ruang fitnes.

Sektor lainnya, Group Djarum memilih dunia Internet dengan memulai bisnis online. Malalui Global Digital Prima Venture, Rebert dan kakakanya melalui Kaskus mencoba menjajaki kerja sama. Ada sedikit kontrofersi, apakah Kaskus dibeli Djarum, tetapi Ken Dean Lawadinata salaku CEO menolak sebutan akuisisi. Di pihak lain, founder Kaskus, Andrew Darwis mengaku hanya berbagi pertnership dengan keuntungan share knowledge dan funding. 

Robert Budi Hartono sangat menyukai olah raga terutama bulu tangkis. Ia memulai dari sekedar hobi hingga perkumpulan bulutangkis (PB) Djarum terbentuk 1969. Di lapangan melinting kretek, Robert menemukan talenta dari seorang Liem Swie King. Dia benar- benar mampu melihat sesuatu dari anak tersebut hingga dikenal sebagai "King Smash".

Sabtu, 26 Oktober 2013

Sandiaga Uno Bisnis Investasi Kerja Keras

Biografi Pengusaha Sandiaga Uno


Pengusaha kelahiran Rumbai Pekanbaru, 28 Juni 1969, Sandiaga Salahudin Uno menjadi fenomena tersendiri karena sukses di umur relatif muda. Dia berhasil dengan PT. Saratoga Investama Sedaya dibidang keuangan dan investasi perusahan lain. Ini bukan tanpa resiko jelasnya, dia memperhitungkan semuanya terhitung untuk setiap perusahaan dibelinya.

Perusahaan- perusahaan ditangan dinginnya  tersebut malah berakhir gemilang. Beberapa perusahaan lantas dijualnya kembali dengan harga lebih tentunya. Kita sebut saja beberapa PT. Dipasena Citra Darmaja, PT. Bank Tabungan Pensiun Nasional (BTPN), dan PT. Astra Microtronics.

Sosoknya murah senyum membuatnya menyenangkan meski kita belum bertatatp mukan. Tak salah lagi senyumnya itu memang berarti sesuatu, apa arti senyumnya? Pria yang berdarah asli Gorontalo, lulusan universitas, Wichita State University yang berada di Kansas, Amerika Serikat, dengan predikat summa cum laude, senyumnya diartikan pula penuh kepercayaan diri.

Sejak awal karirnya cemerlang bukan cuma faktor keberuntungan. Sandi merasa bahwa bisnis jadi pilihan terakhir ketika perusahaan tempatnya bekerja bankrut. Meski karirnya tercatat bagus saat itu. Dia cukup merasakan rasanya sakit menjadi pengangguran berusaha lebih keras dari sebelumnya. Tepat 1990, ia bekerja di Bank Summa, bank yang dimiliki oleh pengusaha terkenal, William Soeryadjaja. Sosoknya yang mudah bergaul membuatnya mudah mendapat kawan.

Akhirnya Bank Summa di tutup karena perang Timur Tengah, menjadikannya resmi seorang pengangguran. Hingg tahun 1993 Sandi lantas bergabung Seapower Asia Investment Limited di Singapura sebagai manajer investasi sekaligus manajer investasi di MP Holding Limited Group di tahun 1994. Selanjutnya, pada tahun 1995, ia hijrah ke NTI Resources Ltd Kanada. Sandi mendapat kepercayaan menduduki posisi Excecutive Vice President NTI Resources Ltd dengan penghasilan 8000 dollar AS per bulan.

Bisnis jasa keuangan


Pengusaha terkenal itu menjadi sosok yang begitu berarti baginya; sebagai mentor bisnis seorang Sandiaga S Uno. Setahun kemudian ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di George Washington University Amerika Serikat dari William Soeryadjaja. Ia pun lulus dengan indeks prestasi kumulatif 4,00. Dekat dengan William Soeryadjaja membuanya dekat dengan putranya, Edwin Soeryadjaja.

Di 1998, Sandi bersama teman SMA -nya, Rosan Roeslani, kemudian mendirikan PT. Recapital Advisor. Kedekatannya dengan Edwin Soeryadjaja, membuatnya mudah mengembangkan bisnis. Ia kemudian bersama Edwin membangun PT. Saratoga Advisor, perusahaan jasa keuangan. "Saya berangkat dari nol, kembali dari luar negeri, saya masih numpang orang tua. Biasanya dapat gaji bulanan, sekarang bepikir bagaimana survive," tuturnya.

Bukan bisnis yang menjanjikan ketika mereka menawarkan sebuah jasa. PT. Saratoga Advisor hanya dikenal sebagai pemain baru. Perusahaan- perusahaan besar menyebut mereka sebagai anak kemarin sore. Tetap berjuang, Sandi menawarkan portfolio nya, mencoba meyakinkan pengusaha itu. "Saya pernah di PHK di saat krisis, bahkan ditolak oleh 25 perusahaan untuk bekerja dan bahkan hasilnya nihil tidak mendapat apapun."

Setelah enam bulan menjalankan jasa konsultasi miliknya. PT. Saratoga Advisor mulai dipercaya perusahaan, mereka meminta ia dan Edwin membantu masalah keuangan dan restrukturisasi. Mekanisme perusahaan Saratoga adalahan menghimpun modal investor kemudian mengakuisisi perusahaan. Perusahaan- perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan. Setelah sehat, Saratoga menjual kembali dengan harga lebih bagus.

Perusahaan tersebut memiliki saham besar di PT. Adaro Energy Tbk, sebuah perusahaan yang memiliki usaha batu bara dengan cadangan 928 atau kedua terbesar di Indonesia. Lain di Bisnis dan keluarga, Sandi mengaku sangat sayang kelurga dan terkadang merasa berdosa. Dia menyeut hidupnya yang padat dengan jadwal di luar keluarga. Selain bisnis, Sandiaga Uno juga aktif di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), dan pernah meduduki posisi ketua.

Tatapi dari semua itu, Sandi mengaku menyempatkan waktu selama sabtu dan minggu hanya untuk keluarga.

 "Sebenarnya saya malas untuk pergi ke Mal. Tetapi, ya sedikit menyenangkan anak lah," ujar ayah dari dua putri,  Anneesha Atheera dan Amyra Atheefa. "Jujur saya ingin selalu di antara mereka. Saya ingin memberikan yang terbaik," Sandi menambahi dengan serius.

Indorama Corporation Kisah Perantau

Profil Pengusaha Sri Prakash Lohia



Prakash lahir di Kolkata, India, 11 Agustus 1956, datang ke Indonesia pada tahun 1973, sebagai pengusaha tekstil bersama ayahnya Mohan Lal Lahia, yang kemudian mendirikan perusahaan Indorama Synthetics. Prakash bersama saudaranya Anil Prakash Lohia mengembangkan polyester fiber melalui Indorama sebagai basis bisnisnya. Namun, dia bukan lah satu- satunya pebisnis India sukses, ada sederet nama beken lainnya. Dan, mereka masuk jajaran terkaya, baru lah ketika di Indonesia dirinya sesukses sekarang.

Tak disangka, dia adalah kakak ipar dari Lakshmi Mittal yang dikenal sebagai raja baja dunia. Prakash merupakan nama baru di dunia, dikenal memiliki kekayaan $2,65 juta, menjadikanya pengusaha terkaya Indonesia baru versi Forbes. 

Indorama merupakan cikal bakal semuanya, didirikan oleh sang ayah. Prakash tengah mencoba berbisnis bahan baku dimana instingnya benar betul. Ia mendirikan perusahaan polyester terbesar di dunia, menjadikan Indonesia sebagai basisnya. Bermula pabrik benang di 1976, perusahaan Indorama mencari bisnis lain sebagai bentuk ekspansi. Perusahaan mulai membuat polyester fiber, polyester bottle- grade (PET), hingga damar di 1995. 

Perusahaan yang induknya kini berada di Singapura, Indorama Corporation, menghasilkan berbagai produk. Indorama menghasilkan polypropylene, polyethylene, PET resin, poliested sampai sarung tangan medis. Saat ini pabrik dari perusahaan Indorama dapat dengan mudah ditemui di berbagai kota terutama di Jakarta. Bekerja sebagai induk, Indorama membawahi perusahaan lain dalam naungan satu group. Perusahaan PT. Indorama Synthetic, perusahaan pengolah petrokimia.

Lalu Indorama IPLIK, Indorama Shebin, dan ISIN Lanka, ketiganya menghasilkan benang pital. Perusahaan pembuat sarung tangan medis dibawahi oleh Medisa Technologies. Sejak 1995, Prakash melalui Indorama juga mulai melirik pasar real estate dibawah naungan Indorama Real Estate. Perusahaan real estate ini cukup berhasil mendapatkan beberapa penghargaan.

Tahun 2006 -an, Prakash berintegrasi dengan olefin plan di Afrika, mendirikan pabrik petrokimia terbasar di Afrika Barat dan terbesar kedua di Afrika.

Tahun 2009, Lohia bersaudara berhasil mengembangkan Indorama Synthetics menjadi perusahaan synthetic terbesar di dunia. Indorama Ventures dibentuk dengan penggabungan aset mereka. Di tahun yang sama, Indorama Ventures memutuskan melakukan go public melalui Bangkok Stock Exchange. Pada 2008, Indorama Corp membangun investasi ke negara lain, melalui Indorama Venture PCL, menjadi perusahaan polyester terbesar di dunia.

Prakash dan istrinya, Seema, memiliki dua anak Amit dan Shruti. Anak laki- lakinya, Amit berhasil menjadi magna cum laude dari University of Pennsylvania’s Wharton School of Business. Dia menjadi Menejer Direktur untuk Indorama Corporation and direktur perusahaan lainnya. Putrinya, Shruti Hora, lulus dari Babson Collage dan sekarang tinggal di Singapura.

Minggu, 20 Oktober 2013

Dell Inspirasi Dunia Bisnis PC

Biografi Pengusaha Michael Dell 



Michael Dell kelahiran 23 Februari 1963, sudah lah sejak lama tertarik dengan teknologi dan gadget. Ia menikmati bagaimana mereka bekerja. Di umur 15 tahun, Michael akhirnya membeli komputer pertamanya, yaitu komputer buatan Apple. Ya, berawal komputer Apple, dia yang kala itu hobi teknologi memutuskan membongkar Apple sendiri. Ia mencoba mencari tau bagaimana komputer itu bekerja. Dari kuliah, Micheal membangun komputernya sendiri dengan merek Dell komputer.

Dell meluncurkan revolusi PC (Personal Computer) tahun 1980, menciptakan Dell komputer yang diciptakan di kamarnya. Ia membangun PC di kamar asrama di University of Texas dan capat berkembang menjadi perusahaan super besar -Dell komputer. Lalu 1992, setelah 8 tahun Dell dibangun, Michael Dell menjadi CEO termuda di 500 perusahaan terbaik. Kesuksesannya bukan hal mengagetkan jika dilihat bagaimana sosok orang tuanya.

Ibunya adalah seorang pamain saham, sedangkan sang ayah adalah orthodontist, yang memaksa anaknya masuk ke dunia kesahatan. Tapi, Dell muda justru tertarik labih awal di komputer dan bisnis. Pekerja keras, ia bekerja menjadi pembersih piring di restoran China, menyimpan uangnya untuk bisnis lebih besar. Di umur 12 tahun, dia memiliki uang sendiri mengasah ilmu komputernya lebih dalam. Dell langsung mempraktikan kebisaanya menjadi pebisnis langganan the Houston Post, tentunya melalui komputer.

Ia merubah data menjadikan itu $18.000 dalam satu tahun di awal sekolah menengah. Tertarik tumbuhnya gadget dan teknologi, di 15 tahun, Dell baru bisa membeli komputer Apple pertamanya.

"Melalui rasa ingin tahu ini dan melihat peluang dengan cara baru yang kami petakan dalam jalannya Dell. Selalu ada kesempatan untuk membuat perbedaan."

Saat itu di kampus ketika ia menemukan bisnis teknologi akan meledak. Dunia PC masih begitu muda ketika Dell masuk dan melihat tidak ada penawaran langsung ke orang- orang. Mereka harus melewati perantara serta korupsi panjang. Ia ingin masuk lebih dalam melalui idenya penjualan langsung dan layanan purwa- rupa. Modal $1.000 digunakannya untuk berbisnis membangun perusahaan dari nol besar. Dia tidak hanya jago mesin komputer, tapi kemampuan marketing ditambah harga yang murah.

Tak lama kemudian, ia setelah memiliki uang lebih banyak, Dell memutuskan memilih drop-out; melanjutkan bisnis PC dari luar sana. Bisnisnya tak dinyana ternyata maju pesat, mengejutkan hasilnya $6 juta di tahun pertama. Selama tahun 2000, Dell menjadi miliarder dan perusahaanya di 34 negara dan memiliki lebih dari 35.000. Tahun berikutnya, ia telah melebihi Compaq komputer di segi penjualan. Keseluruhan, penjualan Dell komputer dalam 20 tahun berhasil menjadi bisnis tersukses di planet bumi.

Perusahaan ini bahkan tercatat pernah mengalahkan bisnis kelas Titan yaitu Wal- Mart dan General Electric. Cerita sang penemu Dell dituliskan di sebuah buku " Direct from Dell: Strategies That Revolutionized the Industry".

Perusahaan Dell


Dell merupakan perusahaan multi nasional bermarkas di Round Rock Texas, United State. Perusahaan yang menjual, mengembangkan, memperbaiki dan mensuport produk sejenis dan servis tentunya. Membawa nama pemiliknya, Dell komputer memiliki 103.300 pekerja di seluruh dunia. Dell awalnya menjual komputer, software, server, penyimpanan data, kamera, mp3 player dan banyak lagi. Dikenal pula menerapkan konsep penjualan "build to order", memberikan spesifikasi khusus bagi pembeli.

Hingga beberapa tahun lalu, Dell hanya menjual hardware hingga akuisisi Perot System, akhirnya perusahaan memilih masuk bisnis IT servis lebih lagi. Akusisi yang menambah kemampuan perusahaan manangani hal- hal seperti solusi bagi komputer. Mereka labih paham kebutuhan komputer pembeli daripada siapa pun melalui sistem tersebut.

Awalnya Dell adalah perusahaan privat milik Michael Dell bernama PC's Limited, ketika berkuliah di University of Texas at Austin. Kamar asrama di kampus membawa perusahaan yang menjual komputer IBM PC Compatible. Dia kemudian drop- out, mengambil $300.000 modal kapital keluarga. Di 1985, akhirnya perusahaanya menjual produk pertama, sebuah komputer desain sendiri, the Turbo PC, kemdian dijual $795.

PC's Limited menempatkan dirinya manjadi bisnis langsung, menjual komputer berdasarkan pilihan dan dijual secara langsung. Perusahaan beromset kotor sekitar $75 juta di awal bisnis. Perusahaan merubah namanya menjadi Dell Computer Corporation di awal 1988 dan berekspansi secara global. Di Juni 1988, nilai Dell berkembang dari $30 juta menjadi $80 juta, kemudian perusahaan mengeluarkan penawaran saham publik Juni 22, menghasilkan $3,5 juta saham dijual $8,50 per- saham.

Di 1999, Michael Dell menjual komputernya melalui Wal-Mart menambah penjualan senilai $128 juta. Tetapo, konsultan keuangan Dell, Kevin Rollins menyarankan Dell menarik keputusanya karena adanya kemungkinan kerugian jika dilakukan secara jangka panjang. Tahun 1999- 2000, Dell menikmati bisnisnya maju stabil berbagi pasar dengan para kompetitor.

Dell mendapat ranking 1 selama dua tahun, penghargaan sebagai perusahaan terbaik di teknikal suport dan tentunya pelayanan pelanggan. Di 1996, perusahaan mulai menjual PC melalui website perusahaan, dan di 2001, mulai menjual produk seperti televisi, handhelds, digital audio player, dan printers. Dell mengakuisisi pertama kali  ConvergeNet Technologies sekaligus melewati Compaq dari segi pabrikan PC di 1999.

Baca juga: Jasa Pembuatan Website makassar

Tahun 2003, Dell merubah nama menjadi hanya Dell.Inc yang sebelumnya Dell Computer Corporation. Ini menunjukan keseriusan di bidang lain selain komputer.

Micheal Dell memutuskan keluar sebagai CEO di tahun 2005, meninggalkan posisi untuk Kevin Rollins, yang telah menjadi COO dan president sejak 2001. Dibawah Rollins, Dell melepaskan pengaruh Microsoft dan Intel pada produk milik Dell di bisnis PC. Selama waktu itu, Dell mengakuisisi Alienware, memperkenalkan produk baru di Dell. Untuk menghindari cross market, Dell memutuskan mengambil perusahaan Alienware sebagai ekuitas tersendiri, menjadi perusahaan dibawah Dell.Inc.

Sabtu, 19 Oktober 2013

Perkebunan Kelapa Sawit Terbesar Garuda Mas

Biografi Orang Terkaya Sukanto Tanoto



Sukanto Tanoto lahir di Belawan, Sumatra Utara, 25 Desember 1949, memiliki nama asli Tan Kang Hoo merupakan pengusaha besar Indonesia. Dia adalah sang CEO PT. Garuda Mas Indonesia, perusahaan yang bergerak dibidang minyak sawit, plup, dan kertas. Berdasarkan Forbes, ia disebut- sebut merupakan orang terkaya nomor 418, total kekayaan mencapai $2,8 miliar.

Lahir di hari natal, di tahun 1949, Sukanto merupakan yang tertua dari tujuh bersaudara. Ayahnya adalah imigran berasal dari Putian, provinsi Fuji di Mainland China. Di 1966, ketika ia berusia 17 tahun, Tanoto berhenti sekolah karena sekolahnya ditutup oleh pemerintah Soharto. Ia pun memilih berbisnis setelah berhenti, bekerja keras 16 jam, kemudian masuk ke bisnis saham.

"Saya sedang belajar di sebuah sekolah Cina. Saya tidak diijinkan untuk pergi ke sekolah nasional karena orang tua saya mengadakan kewarganegaraan Cina. Saya dianggap asing. Saya tidak pernah belajar bahasa Indonesia secara resmi, " kenang Tanoto.

Ia kemudian masuk ke bisnis pipa minyak sekala multinasional. Keberuntungan membawanya ke situasi yang kondusif berbisnis, ketika harga minyak naik di 1972 ketika krisis minyak. Tanoto mulai mencetak $1 juta pertamanya ketika berhasil melalui bisnis minyak. Memaksa keberuntungan, ia pun mencari modal mengembangkan bisnisnya. Tanoto menyadari bisnis kayu merupakan bisnis yang berkembang, kemudian diubah menjadi plywood.

Bisnis kayu dibawa ke negara Jepang dan Taiwan, merubahnya menjadi plywood kemudian dijual kembali ke Indonesia lebih mahal. Melihat kesempatan tapi tidak efisien, ia ingin membangun bisnis pulp di Indonesia, hanya dia butuh perijinan. Di era Suharto, itu merupakan praktek umum ketika pengusaha harus dekat para politisi. Tanoto harus dekat mereka guna mendapatkan ujin pabrik plup. Mereka meragukan ide bisnisnya memaksa agar melapor ketika pabrik jadi.

Dalam 10 bulan, Tanoto mulai membangun pabrik pulp pertama, Inti Indorayon Utama di provinsi Sumatera Utara. Ia berhasil merubah wajah Indonesia, dan membuat pemerintahan militer tersebut kagum. Semuanya berkat keputusannya agar tak idealis. Dia mendekati para politisi dimasanya itu. Di 7 Agustus 1975, Suharto datang ke pembukaan pabrik pertama di Medan. Perusahaan Pulp digagas oleh Tanoto, lalu dibeking oleh Suharto membuatnya menjadi orang terkaya di Indonesia, di 1980 -an.

Pertengahan 1970-an, ia akhirnya baru pergi ke sebuah sekolah bisnis di Jakarta. Setelah sukses dia yang tidak bermodal pendidikan formal di bidang bisnis. Merasakan pentingnya pendidikan bagi kerjaan bisnisnya. Merasa tidak puas, dia memutuskan ke luar negeri yakni belajar di INSEAD, sekolah bisnis terkemuka di Fountainbleau, Perancis.

Bakat bisnis


Sukanto Tanoto berbicara bahwa sifatnya yang mirip ibunya, sifatnya tegas dan keras membentuk dirinya. Dia mengenang bagaimana ibunya selalu tegas menegurnya. "Saya paling banyak makan rotan," kenangnya tentang sosok sang ibu. Sejak 12 tahun, ia gemar membaca buku apa saja termasuk buku revolusi Amerika dan tentang perang dunia; ia bercita- cita menjadi dokter. "Kalau dulu saya meneruskan fakultas kedokteran, saya jadi dokter."

Tapi, ketika 13 tahun, Tanoto menghadapi sulitnya hidup ketika ayahnya pergi karena strok. Ayahnya, Amin Tanoto yang juga pebisnis minyak, bensin, dan onderdil mobil. Pekerjaan yang sangat dikenal karena selalu ia lakukan sepulang sekolah, sambil sibuk belajar tentunya. Dari ayahnya pula, dia belajar bertanggung jawab mengambil alih bisnis lalu membantu ke enam adiknya. Pandai melihat peluang, ia mulai berjualan kayu lapis ketika menghilang di pasaran Singapura, membangun CV.Karya Pelita di 1973.

Tanoto kemudian memproduksi kayu lapis merubah namanya menjadi PT.Raja Garuda Mas, merubahnya menjadi CEO atau direktur utama. Kayu lapis bermerek Polyplex itu diimpor ke berbagai negara Pasaran Bersama Eropa, Inggris, dan Timur Tengah.

"Strategy competition saya itu satu dua step sebelum orang mengerjakannya," ungkapnya.

Ia pun memulai Indorayon, atau PT.Inti Indorayon Utama, perusahaan bergerak dibidang penananam plup. Pabriknya menghasilakn plup, kertas, dan rayon. Perusahaan juga berhasil membawa bibit plup unggulan guna ditanam di Indonesia. Kehadiran Indorayon sempat ditolak masyarakat dan aktifis karena ditengarai mencemari danau toba. Danau diduga tercemar limbah plup, membuat Indorayon ditutup. Tanoto mengambil hikmah kesalahannya, memilih tidak mengulangi lagi.

Ia kemudian membangun lagi pabrik pulp lagi di kepulauan Riau. "Apa yang saya pelajari dari Indorayon, saya praktikan di Riau," ucapnya mengingat. Di Riau, ia membangun hutan tanaman industri dan pabrik plup terbesar di Riau, PT. Riau Plup. Bagi masyarakat, dia mengkonsep menjalankan hubungan sosial dengan lembaga swadaya masyarakat. Dia mengajarkan bagaimana berusaha; penggemukan sapi, pembuatan jalan, dan pertanian.

Tapi, sayangnya, pabrik PT. Riau Plup tidak berjalan lancar, meski sukses merebut hati masyarakata, karena adanya krisis moneter, pabrik yang mulai berdiri 1995 baru selesai di 2001.

PT. Raja Garuda Mas


Pada 1972, ia mendirikan perusahaa CV. Karya Pelita, belakangan berganti nama PT. Raja Garuda Mas. Mendalami seluk beluk kayu, dia harus terbang ke Taiwan mempelajari kayu lapis. Tak sampai enam bulan, perusahaan telah memproduksi polyplex, produk kayu lapisnya yang kemudian dijual ke Timur Tengah dan Eropa. Tanoto kemudian membangun Forindo Pte.Ltd. di Singapura mendukung pengadaan barang dan jasa pendukung perusahaany PT. Raja Garuda Mas.

Lewat PT. Bina Sarana Papan, yang kemudian sukses membangun Uni Plaza dan Thamrin Plaza di Medan. Bisnis lainnya yaitu bisnis kelapa sawit, mendirikan PT Inti Indosawit Subur di 1980. Kebun kelapa sawitnya sudah mulai 8.000 hektare dengan 2.000 karyawan. Tiga tahun kemudian Raja Garuda Mas mengakuisisi Bimoli. Tahun yang sama, ia mendirikan Pec- Tech, perusahaan infrastruktur, energi, minyak, dan gas di Cina dan Brasil.

Bukan tanpa halangan, dua perusahaannya harus berhadapan dengan masyarakat, pecinta lingkungan hidup, dan Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim. Menurut Emil perusahaan dibawah kepemilikan Sutanto Salim mencemari lingkungan sungai asahan. Perusahaan yang bernama PT. Inti Indorayon Utama, yang memiliki pabrik bubur kertas di desa Sosor Padang. PT. Inti Indorayon Utama dianggap mencemari, tapi malalui kekuasaan Suharto kala itu; perusahaan tetap maju.

Hingga, penampungan limbah itu akhirnya jebol, tumpah semua ke sungai asahan; Indorayon harus tutup Juni 1999. Ia mangaku baru kali ini berinvestasi sangat besar $213 juta, sekaligus rugi besar $600 juta. Melalui Soharto, Tanoto kembali membangun Indorayon menjadi PT. Toba Plup Lestari. Pada 1989, ia mendirikan Asia Agri, perusahaan pengolahan sawit. Induk usaha baru tersebut fokus pada pengolahan 150 ribu hektar perkebunan sawit, karet, dan kakao di 4 negara berbeda; Indonesia, Filipina, Thailand, dan Malaysia.

Modalnya 19 pabrik, Asian Agri, perusahaan berhasil menembus 1 juta ton produksi minyak sawit, sekaligus menjadikannya pemain utama di bisnis sawit dunia.

Usaha yang lain, Tanoto mengambil alih mayoritas saham bank United City Bank di tahun 1986-1987. Tidak hanya dalam negeri, ia mendirikan perkebunan kelapa sawit melalui National Development Corporation Guthrie di Mindanao, Filipina, dan electro Magnetic di Singapura, serta pabrik kertas di Cina. Sejak 1997, ia dan keluarga memilih tinggal di Singapura dan mengambil kantor pusat di Singapura. Cita- cita terbesarnya adalah menjadikan pengusaha Indonesia pemain bisnis global.

Kamis, 17 Oktober 2013

Peter Sondakh Rajawali Terbang Tinggi

Biografi Pengusaha Peter Sondakh



Awalnya Peter Sondakh beralih dari semula berbisnis properti di saat mengalami kelesuan, ke bisnis batu bara di era- reformasi. Bukan tanpa perhitungan tepat, Peter Sondakh melalui PT. Golden Eagle Energy nya berhasil  masuk industri bahan tambang. Dia menjadi orang terkaya nomor 8 versi Forbes, total kekayaanya sekitar Rp. 24, 7 triliun. Ia adalah CEO Rajawali Group, perusahaan yang berjaya dari masa orde baru dan reformasi.

Peter dilahirkan di tahun 1953. Ayahnya sudah memulai bisnisnya sejak 1954, memproduksi minyak kelapa serta aktif mengekspor kayu. Tahun 1954, ayahnya merupakan inspirasi bisnisnya, meninggal dan akhirnya mewariskan bisnis kecilnya. Dia yang baru berumur 20 tahun harus mengambil alih bisnis mencari nafkah untuk keluarga. Dia harus membiayai ibu serta empat orang saudara perempuan. Ia yang berumur 22 tahun, mengambil alih bisnis minyak kelapa dan ekspor kayu, mendirikan PT. Rajawali Corporation.

Melalui Rajawali Corporation, ia memulai bisnis properti sebagai bentuk perluasan usaha yang ditekuni ayahnya. Peter mencoba memasuki korporasi besar, berkat keahlian kumonikasinya ia dekat dengan orde baru. Menyadari bisnis properti tidak menguntungkan, tahun 1984, ia menggandeng Bambang Trihatmodjo, putra dari president Soharto, menjalin kerja sama. Melalui PT. Rajawali Corporation milik keluarga cendana. Peter Sondakh, bersama- sama, keduanya lantas mendirikan stasiun televisi pertama RCTI.

Bersama mereka juga membangun bisnis hotel Grand Hyatt di tengah Jakarta. Sementara itu, ia juga fokus dengan bisnis pribadinya dibawah perlindungan orde baru. Dia mengambil alih bisnis gagal PT.Bentoel Group, resmi memasuki bisnis rokok. Pada 1999, PT.Bentoel mulai memperlihatkan geliat baik memberikan keuntungan. Berlanjut, ia yang melihat potensi pariwisata mendirikan bisnis Lombok Tourism Development Corporation.

Melalui Rajawali juga, ia membangun kemitraan mengembangakan Hyatt Hotel dan juga Novotel Sheraton menjadi jaringan hotel bintang lima. Pada tahun 2009, perusahaan mengakuisisi jaringan hotel berbintang lima lain di luar Indonesia. Ini peluang besar dengan Surfers Paradise Resort Hotel Pty. lmtd dari Australia. Perusahaan tersebut merupakan jaring hotel di Australia yang baru- baru ini membangun St. Regis Resort di Bali.

Krisis moneter


Krisis moneter menenggelamkan nama Peter Sondakh, tapi berkat fokusnya pada tiga bisnis utama (properti, pertambangan dan perkebunan); ia berubah menjadi orang terkaya di Indonesia. Ia menduduki ranking ke 8 se Indonesia. Dia dikenal sebagai investor melalui aksinya jual beli perusahaan. Peter dikenal melalui PT. Rajawali Coporation, memiliki kemampuan analisa dan kecepatan menentukan bisnis selanjutnya. Meski sulit mengenalnya sebagai pribadi tapi bisnisnya penuh perhitungan.

Perusahaan holdingnya tidak memiliki situs resmi yang memaparkan profil pemilik secara pribadi. Tapi, dia sudah dikenal secara sepak terjangnya sebagai pengusaha, dia dikenal sabagai pebisnis perhotelan, rokok, gedung perkantoran, telekomunikasi dan media, ritel, farmasi, pariwisata, hingga sampai transportasi. Sekali lagi Peter merupakan sosok yang menarik melalui sepak terjangnya. Kita tidak pernah tau, bagaimana dia melihat suatu bisnis sepenuhnya.

Rajawali memiliki caranya selalu bertahan. Meski krismon, Peter melakukan serangkaian divestasi (melepas saham kepemilikan). Pada 2005, dia melepas saham atas Exelcomindo yang sebenarnya bagian dari Telekom Malaysia Group sebanyak 27,3%. Langkah selanjutnya, Rajawali melepas saham untuk 15, 97% atau senilai US$.438 juta untuk dana segar. Dana tersebut digunakan kembali untuk investasi 24, 9% di PT. Semen Gresik.

Saham di PT. Semen Gresik membuat Rajawali semakin kokoh di tahun- tahun selanjutnya. Pemerintah yang fokus terus menggenjot proyek pembangunan infrastrukur dan disanalah semua bermuara; PT. Rajawali Group akan ikut ambil bagian dari kue keuntungan pembangunan. Tahun 2006, Rajawali sudah masuk ranah sawit bahkan sebelum melepas saham Exelcomindo. Ia melalui Rajawali, berhasil membeli saham PT. Jaya Mandiri Sukses Group lalu memulai bisnis sawit kerika bagus bagusnya.

Rajawali memiliki saham di perusahaan tersebut dan menikmati harga kelapa sawit yang kala itu masih tinggi. Masuk di pertambangan, Rajawali memilih group usaha PT. International Prima Coal di 2007. Satu tahun kemudian, Rajawali melompat dari Kalimantan ke Papua. Perusahaan Rajawali masuk ke PT. Tandan Sawit Papua. Rajawali membuka 26.300 hektar kebun kelapa sawit di tanah Papua. Yang terakhir, perusahaan melepas saham PT. Bentoel yang dimilikinya dari awal usaha.

Mungkin, Rajawali melihat ketatnya kompetisi. Perusahaan menjual saham senila nilai Rp.3,35 triliun kepada British American Tobacco (BAT).

"Kami ingin memfokuskan pada bidang properti, pertambangan, dan perkebunan," ujar Darjoto Setyawan, Direktur Pengelola Pengembangan Bisnis Rajawali Group. Ketiga pilar tersebut, Rajawali ingin kembali ke awal.

Siapa Peter Sondakh? Itu sudah dijelaskan diawal artikel kami. Lebih dekat, putra sulung B.J.Sondakh sukses melanjutkan bisnis sang ayah, diperkirakan bisnis semenjak kecil dan memiliki saham atas PT. Bumi Modern sejak 1976. Cikal bakal Rajawali ketika dirinya mulai membesarkan bisnis PT. Rajawali Wira Bhakti Utama. Perusahaan sang ayah yang dia miliki sepenuhnya di 1993. Ia merupakan pelopor tayangan televisi swasta.

Pusat Data Business Indonesia (PDBI), periode 1976-1996, menyebut Rajawali memiliki lima sektor usaha, yaitu: pariwisata, transportasi, keuangan, perdagangan, dan jasa telekomunikasi. Tak tanggung-tanggung di sektor pariwisata mereka memiliki 16 perusahaan perhotelan dan kawasan wisata. Di sektor transportasi punya tiga perusahaan transportasi, yakni: Taxi Express, Rajawali Air Transport (chartered flight), dan pelayaran feri rute Batam-Singapura.

Di sektor keuangan, Rajawali memiliki 7 anak usaha, antara lain PT Jardine Fleming Nusantara sebuah sekuritas. Adapun di sektor perdagangan ada 9 perusahaan, misalnya Metro Department Store dan jaringan ritel farmasi Apotek Guardian. Di sektor telekomunikasi, Rajawali pernah memiliki Excelcomindo Pratama, yang dioperasikan sejak 1996 yang kemudian dijual ke Telekom Malaysia. Ia merambah industri kimia memproduksi polyester chip dan PET film lalu mendirikan PT Rajawali Polindo.

Rajawali ikut membangun Plaza Indonesia bersama Bimantara, Ometraco dan Grup Sinar Mas. Bahkan, Peter memiliki andil di PT. Gemanusa Perkasa (perdagangan umum), PT Gemawidia Statindo Komputer (distributor komputer), PT. Asiana Imi Industries (produsen stuff toys), dan PT Japfa Comfeed Indonesia; ada 13 perusahaan yang diakuisisi dan 6 perusahaan didivestasi.

Di sisi lain, grup usaha ini memiliki andil (penyertaan saham) di 13 perusahaan. Adapun total anak usaha dan perusahaan terafiliasi yang dimiliki Peter mencapai 49 perusahaan. Sebagai holding company di lingkungan Grup Rajawali, selain PT Rajawali Corporation adalah PT Danaswara Utama.

Bisnis Terbaru


Awal tahun 2005, Peter membuat kejutan. Aksi korporat yang atraktif adalah ketika ia menjual 27,3% sahamnya di Excelcomindo yang sebenarnya termasuk salah satu bintang industri telekomunikasi nasional  kepada Telekom Malaysia Group pada 2005. Nilai saham tadi setara US$ 314 juta, langkah divestasi ini berlanjut pada 2007 ketika Rajawali melepaskan 15,97% sahamnya di Excelcomindo senilai US$ 438 juta kepada Etisalat (perusahaan telekomunikasi Uni Emirat Arab).

Dana dari penjualan saham ini kemudian digunakan untuk membeli 24,9% saham PT Semen Gresik senilai US$ 337 juta dari Cemex (Cementos Mexicanos). Tahun 2006, Rajawali terjun ke bisnis perkebunan sawit yang beroperasi di Kalimantan Timur dan Sumatera yang dalam sub-holding PT Jaya Mandiri Sukses Group. Sementara itu, industri pertambangan di Kalimantan dirambah grup usaha ini tahun 2007 melalui PT International Prima Coal.

Di 2008, melalui PT Tandan Sawita Papua, Rajawali membuka perkebunan kelapa sawit seluas 26.300 hektare di Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom. Grup Rajawali juga memperluas jaringan hotel di kawasan Indonesia seperti jaringan hotel bintang lima Sheraton di Bali, Lampung, Bandung dan Lombok, serta di Kuala Lumpur dan Langkawi. Masih ditambah dengan pengembangan Hotel Saint Regis (Bali) dan Novotel (Lombok). Bisnis pertambangan pun makin diseriusi Rajawali.

Pada tahun 2009, Rajawali resmi mengakuisisi 37% saham Archipelago Resources (yang mengelola tambang emas) seharga US$ 60 juta. Kemudian, Rajawali membentuk perusahaan patungan dengan PT Bukit Asam di Kal-Tim.Di mata Philip Purnama, Direktur Spinnaker Capital, Grup Rajawali dinilainya sebagai kelompok usaha yang smart dan oportunistis. Mereka sangat jeli melihat peluang bisnis dan sangat ahli dalam hal akuisisi aset-aset industri potensial. Bahkan, Philip berani menilai, komandan grup usaha ini, Peter Sondakh, lebih baik dari Warren Buffett.

Seakan semua yang disentuhnya berubah jadi emas seperti Raja Midas tambahnya.