Tampilkan postingan dengan label Pengusaha muda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengusaha muda. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Oktober 2013

Bisnis Waralaba Taman Kanak Kanak Alternatif

Profil Pengusaha Rahmi Salviviana 



Niatnya membantu kebutuhan keluarga berbuah manis. Melalui ketekunan serta kemampuan melihat peluang, Rahmi Salviviana sukses berbisnis di bidang pendidikan. Dia yang berdomisili di Pekanbaru, Riau, melihat bahwa bisnis taman kanak- kanak sangat menjanjikan. Berbekal pengalaman pribadi, ia kini merubah arah hidupnya menjadi lebih baik. Vivi merintis usahan ini semenjak tahun 2008. Saat itu, ia menggunakan merek waralaba lokal.

Dia dulu bekerja sebagai frenchiser atau pengguna waralaba milik orang lain; itu bukan lah miliknya. Setelah dua tahun, ia akhirnya memberanikan diri membuka merek bisnis sendiri, namanya Alifa Kids, fokus pada pendidikan anak usia dini. Sekolah ini mempersentasikan visinya; amanah, loyal, integritas, fatonah, cerdas, adil, kerja sama, inisiatif, disiplin, dan santun. Ia selalu berharap anak- anak didiknya di TK Alifa Kids menjadi anak pintar dan siap masuk SD.

Baca juga: https://sejasaku.net/jasa-pembuatan-taman-di-makassar/

Lulusan hubungan internasional Universitas Riau ini mengaku, bisnisnya berawal dari keinginan membantu keluarga. Saat itu, ia sendiri mempunyai seorang putri berumur empat bulan belum masuk TK. Vivi ingin agar tetap produktif sekaligus mendidik putrinya sendiri.

Melalui Alifa Kids, ia ingin membantu orang tua yang memiliki keterbatasan waktu untuk berinteraksi dengan anaknya. Fokusnya tidak hanya Intelligence Quote (IQ), tapi bagaimana pembentukan karakter. Kesuksesan menurut Vivi 85% -nya berasal dari karakter anak itu sendiri. Dengan fokus dan konsep matang, Alifa Kids mendapatkan berbagai penghargaan. Kini Alifa Kids memiliki lebih dari 350 siswa, dimana tiap bulannya berbeda- beda.

Vivi menyediakan dua jenis pendidikan dan keduanya memiliki biaya berbeda. Untuk siswa setengah hari, orang tua membayar Rp.375.000 dan siswa satu hari penuh membayar Rp.800.000. Alifa Kids mengambil biaya tahunan Rp.4 juta- 5 juta. Usaha ibu 30 tahun in mendapatkan penghargaan Honda Youth Start Up tingkat regional dan nasional oleh Mark Plus. Bank Mandiri kemudian menghantarkan Vivi sebagai finalis nasional di Wirausaha Muda Mandiri.

Alifa Kids total memiliki 60 pegawai dibawah Alifa Management. Ia mendorong pegawainya selalu mandiri bahkan mendorong mereka berwirausaha. Mereka, pegawai Alifa Kids, sepulang mengajar mereka akan sibuk menjalankan usaha kelompok; seperti berjualan pakaian.

Wirausahawan mandiri


Rahmi Salviviani mengaku merintis bisnisnya di tahun 2008 dengan modal terbatas. Ia kala itu meminjam uang dari beberapa saudara hingga terkumpul 50 juta. Tapi, modal usaha tersebut tidak lah bertahan lama meski bisnis telah berjalan. Vivi pun memutar otak, meminta suaminya ikut membantunya hingga keluar dari pekerjaannya. Mereka berdua menjalankan bisnis tersebut bersama. Hasil Alfia Kids di awal digunakan guna balik modal, diputar kembali mengembangkan bisnisnya lebih lagi.

Mereka pun tidak segan mengikuti beberapa seminar kewirausahawan pendidikan. "Investasi terbesar kami adalah mengikuti seminar pelbagi," tuturnya. Kendati telah mendapatkan banyak pengetahuan terbukti tidak menjamin tidak adanya halangan.

Halangan itu pasti ada, membuat bisnisnya menjadi lebih baik. Yang terpenting adalah sumber daya manusia, ia tidak menganggap sepele hal tersebut. Vivi bahkan mengadakan pelatihan untuk pengajar baru. Melalui Alifa Management mencoba membentuk pribadi yang mampu membentuk pribadi siswa, serta memiliki jiwa kewirausahawan. Ia bahkan mengajarkan pegawainya sehingga mereka berbisnis setelah mengajar; seperti berjualan pakaian.

Sukses bisnis pendidikan usia dini, Vivi berencana merambah bisnis sekolah dasar. Ia berencana membuka beberapa sekolah dasar di Pekanbaru. Untuk TK sendiri, ia berharap untuk masuk lebih dalam ke penjuru Indonesia. Beberapa orang telah menawarinya berwaralaba tetapi tidak untuk sekarang- sekarang; ia merasa membutuhkan persiapan.

"Pada dasarnya, saya tidak mau merugika pihak yang tertarik untuk bermitra atau menjadi franchise Alifa Kids," ungkapnya. Sembari menuggu kesiapan, ia telah bergerak membangun sekolah dasar di Pekanbaru. Dia memperkirakan terbangun dua sampai tiga tahun lagi. Ia juga menyebut tidak boleh tergesa- gesa dalam hal berekspansi.

"Godaan untuk masuk sektor usaha lain seringnya menjadi "racun" bagi sebagian besar pengusaha terutama pemula," tuturnya. Ia yakin beberapa pengusaha gagal karena melihat bisnis lain. Dia juga percaya selalu menganggap pegawainya sebagai mitra. Oleh karena itu, sekolah harus menghargai jasa gurunya makanya bisnis tidak instant.

Sekolah Internasional Stella Maris STEMA

Profil Pengusaha Pierre Sanjaya 



Bisnis pendidikan adalah bisnis menjanjikan. Salah satu pengusaha muda berhasil memulai bisnis pendidikan adalah, Pierre Sanjaya, seorang pengusaha pendidikan sukses pemilik Stella Maris; sekolah yang bertaraf international. Semuanya berawal dari ibunya yang prihatin kehidupan pendidikan anak- anak yatim, memilih membuka sekolah sendiri. Cita- cita mulia ibunya berhasil membawa nama Stella Maris bersinar. 

Apa itu sekolah Stella Maris? Stella Maris merupakan jaringan sekolah yang mengelola TK (taman kanak- kanak) hingga sekolah menengah atas (SMA). Cikal bakal Stella Maris adalah lembaga yatim piatu Padang Gembala. Sekarang, Stella Maris dibawah kepemimpinan Pierre Sanjaya telah memiliki dua sekolah sendiri hingga dua sekolah waralaba. Di tahun 2010 saja, sekolah yang didirikan Pierre berhasil menghasilkan omset hingga Rp.100 miliar.

Bisnis pendidikan


Seperti Purdi E Chandra, nama Pierre Sanjaya memang menempati tempat khusus. Pasalnya dia merupakan pengembang bisnis pendidikan, dimana mewaralabakan sekolah. Bukan tanpa halangan jalannya, ia harus berjuang dari bawah sekali atau memulai nol besar. Tetapi, dengan bakat alami, Pierre yang diharuskan tetap fokus di pendidikan tetap melakukan bisnis di sela- sela kesehariannya. Memang ayah dan ibunya itu adalah merupakan orang mementingkan pendidikan, terutama ibunya pelopor Stella Maris.

Selain sekolah formal, ia fokus bisnis pendidikan karakter, pendidikan karir, dan bisnis konsultan pendidikan. Dibawah naungan Asia One Consulting dan Success Academy Indonesia, ia telah membantu 20 sekolah hingga 2010 -an. Dari panti asuhan Anak Gembala, sang ibu membangun Stella Maris di kawasan Serpong sekitar tahun 1995. Ia mulai dengan dua ruko; yang satu untuk umum, satu untuk anak yatim. Fokusnya kala itu hanya pendidikan TK dan SD belum menyangkup tingkatan lain.

Ketika sekolah Stella Maris dibuka pertama kali, Pierre Sanjaya masih lah bersekolah (SMA). Meski masih sekolah, ia diserahi tanggu jawab membegikan brosur dan memasang spanduk Stella Maris di pasar hingga pusat perbelanjaan."Selama enam bulan kami berpromosi secara tradisional. Syukur, respon cukup bagus. Kami mendapatkan 200 murid," kenangnya. Setelah itu, dua ruko berkembang menjadi empat ruko, bahkan sampai delapan ruko di 1999.

Jenjangnya kemudian bertambah SMA dan SMP. Disaat kuliah akuntansi di Universitas Bina Nusantara mengambil jurusan akuntansi, Pierre diserahi tanggung jawab keuangan dan administrasi di Stella Maris. "Saya padatkan kulai menjadi empat hari seminggu supaya bisa mengurus Stella Maris,"ujarnya. Anak kedua dari dua bersaudara ini ditugaskan membenahi sistem informasi agar lebih mudah dan cepat pelaporannya. Lulus kuliah di 2001, ia memilih bekerja menjadi programer sekaligus pengurus Stella Maris.

Dia melanjutkan kuliah S-2 di Universitas Pelita Harapan mengambil jurusan Teknologi Pendidikan. Di bank Lippo, Pierre hanya bertahan satu tahun saja, kemudian pindah di PT. Rimba Dana sebagai pegawai system analysis selama satu tahun. Setelah itu sisinya ia konsentrai ke Stella Maris total.

Modal usaha


Tahun 2004, sekolah Stella menggunakan sertifikat ISO 90001:2000. Ia melakukan studi banding hingga Singapura dan Australia. Pierre kemudian menggunakan sistem International Baccalaureate (IB) serta kurikulum Cambridge yang menitik beratkan kemampuan akademik. Sekolah Stella sudah memiliki sekitar lebih dari 2.500 siswa. Pierre sukses dengan sekolahnya siap melakukan ekspansi. Dia mencoba masuk ke raah sekolah internasional.

Bukan perkara mudah, ada dua hal mengganjal bisnisnya, pertama adalah mutu pengajar serta kurikulum. Pierre melakukan perjalanan studi ke luar negeri sebagai solusi. Selain itu, ia mencoba mengajukan kredit pengembangan. Nah, ini hal kedua yang harus dihadapi oleh seorang Pierre Sanjaya,

"Untuk membangun sekolah ini, kami membutuhkan modal puluhan miliar, aliran pendapatan tentunya tidak akan mencukupi," ujarnya, menceritakan proses panjang bisnis miliaran rupiah. Dia mencoba pinjam ke bank tapi ditolak.

Dua bank yang ditemuinya menolak proposal miliknya. Pierre pun mulai belajar lagi, mencoba mengajukan kedua kalinya. Pierre belajar macam bisnis diminati oleh bank. Hasilnya, dia mendapatkan modal dari bank swasta, melihat arus kas lancar dan jumlah murid terus bertambah. Ia juga menemukan kendala lagi, setalah uang masuk, dia harus menghadapi warga karena lahan yang dibangun di kawasan Summarcon Serpong.

"Hanya karena kesalah pahaman, mereka mendemo. Tapi syukur, bisa diatasi." ucap Pierre.

Kesuksesan membuat beberapa berharap mewaralaba sekolah Stella Maris. Di 2004, ia merasa siap mewaralabakan bisnisnya. Dia menargetkan 5 cabang melalui waralaba. Salain Stella Maris, Pierre memiliki bisnis pribadi yaitu jasa leasing sepeda motor besar, dan penjualan villa di Bali.

Bosowa Membangun Mental Erwin Aksa

Biografi Pengusaha Erwin Aksa



Bernama lengkap Erwin Aksa Mahmud lahir di Ujung Pandang, 7 Desember 1975. Ia selalu mengingat satu bahwa bisnis merupakan bagian hidupnya. Ayahnya, Aksa Mahmud, yang merupakan orang terkaya ke 34 versi Forbes di 2013, memberikan ketegasan dan disiplin tinggi. Erwin kecil marasakan itu, bukanlah sesuatu yang mudah harus ikut berkantor. Dia merasakan betul bagaimana tekanan ayahnya, sosoknya baik sebagai pengusaha dan pribadi. 

Baginya ayahnya merupakan tokoh yang inspiratif, selain pengusaha dia pernah menjabat ketua HIPMI dua kali. Erwin yang memiliki sifat suka menerima tantangan membuatnya aktif berorganisasi. Terkahir, ia tercatat sebagai ketua HIPMI dari Sulawesi Selatan mengikuti jejak ayahnya."Ya. Dengan bismiallah, memohon petunjuk dan kekuatan dari Allah; saya terima amanah ini" ujar Erwin,  ujar Erwin, penggemar otomotif dan sop konro ini.

Erwin memulai dari bawah di Bosowa Corp. Di 1997, ia memulai sebagai executive director & deputy VPD PT. Semen Bosowa Maros. Perlahan tapi pasti, dia berusaha menunjukan kemampuan terbaiknya. Erwin yang merupakan lulusan universitas Pittsburgh, Pennsylvania USA, akhirnya resmi menjadi direktur utama di PT. Bosowa Energy. Dia kemudian meneruskan karirnya sebagai pengganti ayahnya sendiri, Erwin merupakan direktur utama Bosowa Corporation.

Ayah tiga anak ini menunjukan bakat alaminya menjadi pengusaha mandiri. Melalui Bosowa, ia mampu merubah bisnis berkali- kali lipat. Bosowa Corp sebuah perusahaan yang bermula dari perusahaan di bidang perdagangan umum, CV. Moneter didirikan di Sulawesi Selatan, pada 22 Februari 1973 oleh Aksa Mahmud. Pada 1978, perusahaan ini mendapatkan hak eksklusive untuk menangani pemasaran Datsun. Merek mobil buatan dari Jepang tersebut diperuntukan untuk kawasan Indonesia Timur.

Pada tahun yang sama, di tahun 1973, Perusahaan berubah nama menjadi PT. Monetera Motor. Kesuksesan tersebut semakin menjadi dengan pengakuan lainnya. PT. Monetera Motor mendapatkan kesempatan untuk memegang merek Mitsubishi untuk wilayah Timur. Selanjutnya, perusahaan kembali berubah nama menjadi PT. Bosowa Berlian Motor, dan menjadi tonggak penting berdirinya Bosowa yang berbisnis tidak hanya mobil.

Bosowa adalah singkatan nama dari tiga kabupaten di Sulawesi Selatan, yakni Bone, Soppeng dan Wajo, semuanya wilayah Bugis. Dia yang menjadi direktur utama bukanlah karbitan, tapi benar- benar serius mengeluti bisnis. Ia mendapatkan pengkaderan secara langsung bahkan dikabarkan hingga kabur dari rumah. Tapi, malalui itu pula, Erwin belajar lobi bisnis, negoisasi, sopan santun, kepemimpinan bisnis dan sosial.

 "Saya mau fokus pada bisnis inti yang prospektif saja. Makanya, kami melakukan regrouping menjadi cukup enam bisnis inti saja. Industri kelautan saya tidak masukkan sebagai bisnis inti Bosowa. Pertambakan ikan dan udang serta rumput laut, kami jadikan sebagai usaha pengembangan masyarakat, community development, supaya keberadaan Bosowa bisa benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat," ucapnya

Bisnis sosial


Erwin sendiri diangkat menjadi ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha Indonesia), ia sangat fokal dalam hal usaha kecil dan menengah. Dia melalui HIPMI menyuarakan tentang Kredit Usaha Rakyat, yang kala itu memang sulit untuk klaimnya. Sekarang, setelah lepas dari HIPMI, Erwin diangkat menjadi wakil ketua umum Kamar Dagang Indonesia (KADIN), dan memegang bagian usaha kecil menangah (UKM).

"Salain ada kepastian, UKM kita butuh bantalan. Tapi bukan bantuan uang tunai, melainkan akses modal yang lebih mudah ke perbankan," kata Erwin disebuah pembicaran resmi, seperti dikutip dari situs Suara Pengusaha.

Karena kecintaan akan olahraga, Erwin pernah menangani sebuah klub sepakbola selepas kuliah di Amerika. Kegiatan tersebut dilakukannya disela- sela mengerjakan tugas di Bosowa. Ia sendiri sanggup, bahkan berhasil mengembangkan PSM Makasar. Ia mendirikan klub alasannya selain gemar olahraga, dia mengaku sapak bola merupakan kegemaran anak- anak di Makasar. Sepak bola bisa menjadi lifestyle di sana, sehingga ia berminat untuk menahkodainya.

Berkat pengalaman organisasi dari SMA, PSM Makasar menjadi klub yang diperhitungkan ditangannya. Erwin berhasil bahkan melebihi ketua sebelumnya. Dia berhasil membuat PSM Makasar sukses menjadi runner- up di Liga Indonesia. Lainnya, ia juga berhasil mengembalikan pamor PSM menjadi tim elit di Indonesia. Melalui olah raga inilah, ia patut mendapat apresiasi sepenuhnya.

Erwin Aksa selalu percaya semangat datangnya dari hati. Dan, keluarga mendukungnya sengat berarti bagi kehidupannya. Ayah dari Trinisha Erwin Aksa, Shyla Erwin Aksa, dan Muhammad Yusuf Akasa, mampu hingga sekarang menjadi pemimpin. Dia menjadi pemimpin tidak hanya di Bosowa hingga KADIN, tetapi menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri dan keluarga.

Minggu, 20 Oktober 2013

Bantal Mica Work Menembus Pasar Malaysia

Profil Pengusaha Paulus 


Ide bisnis memang datang kapan saja dimana saja, begitu pula bagi Paulus pencipta Mica Work. Pria 30 tahun ini menyebut usahanya menciptakan keceriaan dibalik bantal mobil. Dia merasa membutuhkan bantal yang tidak hanya nyaman, tetapi bantal yang menyenangkan.

Bantal harus memenuhi konsep enak dipandang melalui warna- warna cerah, berbentuk animasi lucu, serta empuk.

Paulus membuat bantalnya sendiri bermodal kreatifitas serta keahlian menjahit. Dia, melalui toko online, membuka bisnis kreatif Mica Work. Produknya bermacam- macam, tapi diawal ia fokus pada bantal mobil. Ya, bantal mobil yang monoton dengan warna yang cenderung kusam, diubahnya menjadi penuh warna- warni ceria. Paulus memakai karakter- karakter berbeda di tiap produknya.

Karakter tersebut bisa dipesan oleh pembeli; bisa robot, tokoh kartun, motif batik dan lainnya. Ia cukup memajang sample di etalase tokonya. Sebgai catatan, Mica Work tidak memiliki toko khusus tapi memilih menciptakan toko online. Paulus sendiri yang memulai ide berjualan online, hasilnya sekitar Rp.5000- Rp.30.000 per- buah.

 "Selain menjadi pajangan jok mobil, bantal tersebut dapat dipakai sebagai sandaran dan dapat berfungsi ganda. Apalagi symbol yang digunakan cocok dengan symbol pemilik mobil," ungkap Paulus. Bisnis miliknya bisa dibilang bisnis tak terbatas. Dari segi segmentasi, pembeli bisa siapa saja termasuk kalangan pria. Bentuk yang dipesan juga tidak selalu berorientasi anak- anak atau wanita. 

Paulus juga menciptakan simbol tertentu seperti wajah tertawa atau tersenyum. Kembali lagi pembeli mau memesan model seperti apa. Dia gencar memasarkan produknya di berbagai media, selain melalui toko online sendiri. Bantalnya beredar baik melalaui Facebook dan Twitter dikelola olehnya langsung. Dari mulut ke mulut, pembeli berdatangan baik melalui fans page atau profil Twitter.

Bisnis ekspor


Ia tidak pernah membuka cabang, hanya fokus di sekitar Solo, Jawa Tengah. Kebanyakan datang melalui online langsung mencari tau. Tidak hanya Indonesia, Paulus juga menerima pesanan dari Malaysia dan Singapura. Tidak mudah baginya karena jarak yang jauh serta pengalaman minim di ekspor. Ia mengaku cukup kesulitan bahkan rugi akhirnya.

"Saya pernah ada pesanan untuk membuat bantal mobil dengan harga Rp.90.000. Tapi karena pembelinya dari Malaysia, ongkos kirimnya Rp.135.000. Malah mahal ongkosnya kirimnya. Tetap saya layani meski pesanan dari luar negeri," kenangnya.

Dia menjual hasil karyanya melalui blog resminya yaitu micawork.com. Dibawah merek Mica Work, Paulus menjual produk- produk bantalnya serta produk- produk lain; sarung kursi mobil, safety belt, bantal serba guna hingga tempat tisu. Inofasinya tidak pernah berhenti sekalipun talah sukses. Buktinya adalah produk majalan, Paulus mencoba menciptakan majalah PLUSH, bercerita mengenai karya seninya.

Baru dua tahun, Mica Work memiliki 13 karyawan khusus menjahit boneka dan bantal hingga penyelesaian. Mica Work selalu menjaga kualitas karena persaingan bisnis semacam in selalu bermunculan. Perusahaan juga tidak khawatir gagal bayar oleh pembeli online, jarang bagi pengusaha terkena penipuan semacam ini. Selaku pemilik Paulus mengaku belum ada yang sepeti itu, dan berharap tidak pernah ada kejahatan online. Dia terus melakukan upaya melayani menjadikan dirinya pengusaha yang baik.

Micawork hingga saat ini meraup omzet 30 juta/ bulan. Berbagai pemeran dilalui olehnya untuk memastikan omzet terus naik. Salah satunya yaitu menjual melalui paket jadi jatuhnya bantal ditambah aksesoris lebih murah.

Sabtu, 19 Oktober 2013

Pemilik Kedai Digital Jogja Bisnis Waralaba

Profil Pengusaha Saptuari Sigiharto



Siapa Saptuari Sigiharto tak menyangka kalau usahnya jadi pebisnis tahan banting berbuah manis. Dia adalah sosok pengusaha muda asal kota Yogyakarta. Kiprahnya sebagai pengusaha telah diakui dengan menangkan runner- up wirausahawan mandiri 2007. Dia melalui bisnis kedai digital berhasil menjadi waralaba populer. Konsepnya mudah, Kedai Digital, nama perusahaanya, menjual berbagai hasil digital berbentuk aksesoris.

Ia termasuk tipe pekerja keras, ulet, dan tahan banting. Terbukti dari sekian bisnisnya, dia tetap fokus meski gagal itu sering terjadi. Saptuari agresip bisnis sejak berkuliah di UGM, berbisnis hanya untuk membiayai kuliahnya. Berbagai usaha dan pekerjaan telah ia lakukan untuk memenuhi kebutuhannya. Dimulai dari bekerja di perusahaan rokok, event organizer, radio swast, hingga perusahaan komunikasi. Ia lalu banting stir membuat usaha sendiri.

Dia menjelankan bisnis ayam kampung dan stiker, yang terakhir ini membawanya sukses. Alasan gagalnya karena keuntungan yang tak sejalan dengan modal dikeluarkannya. Setiap kegagal menjadi motivasi bagi Saptuari, membuatnya semakin ngotot bekerja. Suatu hari, ia menumakan ide bisnis baru, ketika itu melihat ibu- ibu berebut marchandise bergambar.  Apa itu? Bisnis aneka marchandise bergambar artis selebritis, padahal hal semacam itu bisa dibuat  sendiri.

Pengalaman tersebut memberikan ide untuknya. Beda dengan bisnis sebelumnya bisnis kali ini tampak lebih sederhana. Dia kesana- kesini mencari tau lalu mempraktikan bisnis unik yaitu bisnis cetak digital pribadi. Konsepnya membuat produk marchandise yang bisa dipesan secara khusus. Modalnya hanya 28 juta tergolong minim dibanding bisnis sebelumnya. Sapturai mulai membuka toko sendiri di Jl. Cendrawasih 3C Demangan Baru.

Bisnisya resmi bernama "Kedai Digital" bertempat di toko kecil berukuran 2x7 meter. Awalnya Kedai Digital hanya membuat aneka gantungan kunci saja, dibantu oleh tiga karyawan Kedai Digital merambah bisnis lain; seperti membuat gantungan kunci, t-shirt, pin, jam, mouse pad, poster, keramik, dan terakhir baner. Respon bisnis barunya dibilang bagus. Ternyata masyarakat menyukai produk- produk miliknya. Tiap tahun omset Kedai Digital semakin meningkat.

Baca juga: Bisnis Bor Pile Semarang

Usaha yang sebelumnya hanya dibantu tiga orang mendadak berubah jadi 150 karyawan. Merek tersebar di 40 cabang berbeda tersebar di berbagai kota. Rata- rata pegawainya merupakan mahasiswa karena ingin menghilangkan konotasi negatif. Mahasiswa dikenal tukang demo dan tawuran ini akan labih baik jika belajar berbisnis. Dengan usaha keras, pemuda 30 tahun ini menggunakan model franchise atau waralaba. Ia telah menjalankan bisnisnya selama lima tahun, menghasilkan omset miliaran.

Baginya mencoba sesuatu yang baru ditambah ketekunan membuahkan hasil. Dia pandai mengambil pangsa pasar anak muda mencoba membentuk karakter pengusaha sukses.

Jumat, 18 Oktober 2013

Profil Purdi E Chandra Pemilik Primagama Jaya

 Sejarah Berdirinya Primagama

  

Pengusaha terkenal Purdi E Chandra kelahiran Lampung, 9 September 1959, dan menjadi sosok pebisnis yang non konvensional melalui perusahaanya Primagama. Dia dikenal suka berbisnis semenjak kecil bahkan sejak duduk di bangku SMP. Bisnisnya meliputi dari beternak bebek dan ayam, menjual telurnya ke pasar. Sosoknya dikenal karena perjalanan bisnis, pendidikan, dan kegagalan. Ia memang sering membagikan ilmu bagaimana jadi pengusaha sukses berani mengambil resiko.

Hidup dari keluarga tidak mampu membuatnya selalu berpikir jau kedepan. Purdi memang merupakan sosok pekerja keras, mudah bergaul, serta cerdas. Terbukti selama membangun bisnisnya dia dikenal tercatat sebagai mahasiswa empat fakultas sekaligur di dua perguruan tinggi berbeda. Namun jiwanya merasa tidak mendapatkan apa- apa, dia memilih melanjutkan bisnisnya, keluar dari kampus.

Bisnisnya utamanya adalah bimbingan belajar yang dikerjakan jauh sebelum kuliah. Purdi bersama beberapa temannya mendirikan Lembaga Test Primagama. Dia yang juga tercatat mahasiswa di UGM, Yogyakarta, merasa mampu membuat sebuah sistem sendiri. Purdi mencoba membantu calon mahasiswa baru agar bisa masuk perguruan tinggi negeri. Dengan modal hanya Rp.300 ribu, mereka resmi mendirikan Primagama di 10 Maret 1982, di Yogyakarta.  

"Di universitas entrepreneur, tidak ada nilai, tidak sertifikat, atau title," ucapnya. Purdi selalu menegaskan prinsip itu. Ayahnya, Mujiyono dan ibunya, Siti Wasingah sendiri selalu mensuport keinginan anaknya untuk mandiri. Dia berangkat merantau mencoba melihat kelemahan dirinya. Pelan pelan kelemahan diperbaikinya, dia mengaku kini telah tahan banting.

Bisnisnya unik di bidang pendidikan ketika ia sendiri tidak menyelesaikan pendidikan. Ia memulai dari menyewa ruang kecil dan disekat menjadi dua. Murid pertama hanya dua orang yaitu tetangganya sendiri. Biaya les hanya Rp.50 ribu untuk dua bulan. Kalau tidak ada les, maka Primagama akan mengembalikan uangnya. Dua tahun kemudian nama Primagama mulai dikenal. Kunci bisnis Purdi yaitu melihat tingginya antusias siswa SMA yang ingin masuk perguruan tinggi negeri ternama.

Itu menjadi ide cemerlang, berbekal pengalaman masuk UGM, dia dan temannya fokus memecahkan soal- soal masuk perguruan tinggi. Semenjak kesuksesan itu, nama Primagama mulai banyak ditiru, ia pun membutuhkan inovasi baru untuk bertahan di bisnis bimbel. 

Ia membuat slogan "Ikut Primagama pasti masuk perguruan tinggi, atau uang akan kembali."

Purdi mencari anak- anak cerdas di bidangnya, kemudian mengangkat mereka sebagai pengajar. Fokusnya memastikan 90% bisa masuk perguruan tinggi negeri. Usaha Primagama jatuh bangun, dari satu otlet menjadi 200 oulet di 106 kota. Pendapatanya sekarang hingga 70 miliar loh. Selain itu juga membuka peluang bisnis sejenis menjamur di Indonesia. Primagama sebagai pelopor kini telah berubah menjadi perusahaan holding, atau perusahaan induk bagi usaha- usaha lain.

Mereka mebawahi 20 perusahaan berbeda bergerak diberbagai bidang; pendidikan formal, pendidikan non-formal, telekomunikasi, biro perjalanan, rumah makan, supermarket, asuransi, lapangan golf dan lain sebagainya. Ia juga disibukan kegiatan berorganisasi sekaligus sebagai pimpinan perusahaan. Purdi sendiri aktif menjadi ketua Perhimpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) cabang Yogya dan pengurus Kamar Dagang Industri Daerah (KADINDA).

Selain itu ia juga tercatat sebagai anggota MPR RI utusan daerah DIY. Purdi lalu mendirikan Entrepreneur University (EU) yang hanya memakan waktu enam bulan dan kuliah dua minggu. PT. Primagama Bimbingan Belajar memiliki 694 cabang, sebagian besar merupakan konsep waralaba. Hari Nuryanto, selaku Direktur Marketing dan Pengembangan Bisnis, mengatakan cabang Primagama sudah ada di 255 kabupaten kota. Dengan rincian beberapa merupakan waralaba dengan masa kontrak 5 tahun.

Ia mengatakan Primagama beridiri sejak 1982, mulai diwaralaba di 2001. Dia mengatakan total tiap cabang Primagama mampu menampung 200.000 murid.