Tampilkan postingan dengan label Pengusaha muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengusaha muslim. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Oktober 2013

Sandiaga Uno Bisnis Investasi Kerja Keras

Biografi Pengusaha Sandiaga Uno


Pengusaha kelahiran Rumbai Pekanbaru, 28 Juni 1969, Sandiaga Salahudin Uno menjadi fenomena tersendiri karena sukses di umur relatif muda. Dia berhasil dengan PT. Saratoga Investama Sedaya dibidang keuangan dan investasi perusahan lain. Ini bukan tanpa resiko jelasnya, dia memperhitungkan semuanya terhitung untuk setiap perusahaan dibelinya.

Perusahaan- perusahaan ditangan dinginnya  tersebut malah berakhir gemilang. Beberapa perusahaan lantas dijualnya kembali dengan harga lebih tentunya. Kita sebut saja beberapa PT. Dipasena Citra Darmaja, PT. Bank Tabungan Pensiun Nasional (BTPN), dan PT. Astra Microtronics.

Sosoknya murah senyum membuatnya menyenangkan meski kita belum bertatatp mukan. Tak salah lagi senyumnya itu memang berarti sesuatu, apa arti senyumnya? Pria yang berdarah asli Gorontalo, lulusan universitas, Wichita State University yang berada di Kansas, Amerika Serikat, dengan predikat summa cum laude, senyumnya diartikan pula penuh kepercayaan diri.

Sejak awal karirnya cemerlang bukan cuma faktor keberuntungan. Sandi merasa bahwa bisnis jadi pilihan terakhir ketika perusahaan tempatnya bekerja bankrut. Meski karirnya tercatat bagus saat itu. Dia cukup merasakan rasanya sakit menjadi pengangguran berusaha lebih keras dari sebelumnya. Tepat 1990, ia bekerja di Bank Summa, bank yang dimiliki oleh pengusaha terkenal, William Soeryadjaja. Sosoknya yang mudah bergaul membuatnya mudah mendapat kawan.

Akhirnya Bank Summa di tutup karena perang Timur Tengah, menjadikannya resmi seorang pengangguran. Hingg tahun 1993 Sandi lantas bergabung Seapower Asia Investment Limited di Singapura sebagai manajer investasi sekaligus manajer investasi di MP Holding Limited Group di tahun 1994. Selanjutnya, pada tahun 1995, ia hijrah ke NTI Resources Ltd Kanada. Sandi mendapat kepercayaan menduduki posisi Excecutive Vice President NTI Resources Ltd dengan penghasilan 8000 dollar AS per bulan.

Bisnis jasa keuangan


Pengusaha terkenal itu menjadi sosok yang begitu berarti baginya; sebagai mentor bisnis seorang Sandiaga S Uno. Setahun kemudian ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di George Washington University Amerika Serikat dari William Soeryadjaja. Ia pun lulus dengan indeks prestasi kumulatif 4,00. Dekat dengan William Soeryadjaja membuanya dekat dengan putranya, Edwin Soeryadjaja.

Di 1998, Sandi bersama teman SMA -nya, Rosan Roeslani, kemudian mendirikan PT. Recapital Advisor. Kedekatannya dengan Edwin Soeryadjaja, membuatnya mudah mengembangkan bisnis. Ia kemudian bersama Edwin membangun PT. Saratoga Advisor, perusahaan jasa keuangan. "Saya berangkat dari nol, kembali dari luar negeri, saya masih numpang orang tua. Biasanya dapat gaji bulanan, sekarang bepikir bagaimana survive," tuturnya.

Bukan bisnis yang menjanjikan ketika mereka menawarkan sebuah jasa. PT. Saratoga Advisor hanya dikenal sebagai pemain baru. Perusahaan- perusahaan besar menyebut mereka sebagai anak kemarin sore. Tetap berjuang, Sandi menawarkan portfolio nya, mencoba meyakinkan pengusaha itu. "Saya pernah di PHK di saat krisis, bahkan ditolak oleh 25 perusahaan untuk bekerja dan bahkan hasilnya nihil tidak mendapat apapun."

Setelah enam bulan menjalankan jasa konsultasi miliknya. PT. Saratoga Advisor mulai dipercaya perusahaan, mereka meminta ia dan Edwin membantu masalah keuangan dan restrukturisasi. Mekanisme perusahaan Saratoga adalahan menghimpun modal investor kemudian mengakuisisi perusahaan. Perusahaan- perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan. Setelah sehat, Saratoga menjual kembali dengan harga lebih bagus.

Perusahaan tersebut memiliki saham besar di PT. Adaro Energy Tbk, sebuah perusahaan yang memiliki usaha batu bara dengan cadangan 928 atau kedua terbesar di Indonesia. Lain di Bisnis dan keluarga, Sandi mengaku sangat sayang kelurga dan terkadang merasa berdosa. Dia menyeut hidupnya yang padat dengan jadwal di luar keluarga. Selain bisnis, Sandiaga Uno juga aktif di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), dan pernah meduduki posisi ketua.

Tatapi dari semua itu, Sandi mengaku menyempatkan waktu selama sabtu dan minggu hanya untuk keluarga.

 "Sebenarnya saya malas untuk pergi ke Mal. Tetapi, ya sedikit menyenangkan anak lah," ujar ayah dari dua putri,  Anneesha Atheera dan Amyra Atheefa. "Jujur saya ingin selalu di antara mereka. Saya ingin memberikan yang terbaik," Sandi menambahi dengan serius.

Rabu, 23 Oktober 2013

Pendidikan Anak Usia Dini Menguntungkan

Profil Pengusaha Sukses Senita Jaya



Berawal susahnya mencari sekolah si kecil. Senita Jaya merasakan betul susahnya masuk TK. Alasannya mudah, anak Senita terlalu kecil untuk memulai TK. Tidak mau terus kecewa, ia memilih memulai sekolahnya sendiri. Senita membuka bisnis pendidikan pertamanya berorientasi pendidikan usia dini (PAUD). Bermodal tekat serta inspirasi yang kuat, ia pun bergegas membangunnya. Hampir putus asa, Senita terus mencari- cari pendidikan anak kecilnya.

Ia berjalan kesana kemari hingga jalan itu muncul. Dari sebuah brosur di pintung angkot yang ditumpanginya, dia berjalan menuju sebuah taman kanak- kanak. Taman kanak yang bernama TK Islami berada di kawasan Samarinda Utara, ketika ia mendatangi tempat tersebut; hanya sebuah taman yang disulap menjadi sekolah. TK Islami tersebut hanya lah dibangun di pekarangan rumah sebagai bisnis sampingan.

Dan, yang lebih mengejutkan bahwa sekolah tersebut berdiri diatas rumah milik warga. Pemilik TK tersebut ternyata bukanlah pemilik tanah, atau statusnya menyewa. Setelah lelah berjalan, mencari sekolah TK Islami, ia justru menemukan hal yang mengejutkan. Maski fasilitasnya kurang, sekolah tersebut menyampaikan aneka program baik dan Sanita bisa menerima anaknya di sana. Ada satu kali kilatan Senita sadar ternyata pendidikan tak perlu mewah.

Ternyata, dia menemukan pendidikan, bisa juga ya menjadi usaha menjanjikan. Inilah awal mula segalanya, bisnis sampingan kemudian berubah besar. Dia memulai bisnis sendiri; itung- itung membantu orang tua dan anaknya yang masih kecil. Sejak 2005, dia mulai mecicil modal usaha untuk membangun taman bermain. Dia selalu menyisikan uang yang diberikan suaminya sebagai belanja. Lambat laun sebuah sekolah mulai tercipta dengan biayanya sendiri walau baru kursi, meja, dan mainan anak- anak.

Ibunya, Sukeri dan Ayahnya, Syarif Suffendi, seorang dosen fakultas kehutanan Univerisitas Unmul, melihat sinis bisnis anaknya tidak akan berhasil. Mereka prihatin hanya 24 orang anak yang mendaftar di awal pembukaan. Meskipun begitu dia tetap meneruskan bermodal halaman depan rumah orang tuanya.

"Tak selalu diterima, brosur saya seringa ditolak mentah- mentah. Walau begitu saya tetap semangat," ingatnya di awal bisnis.

Meski sedikit, dia mengatakan itu bukanlah masalah baginya. Bagi Sanita yang terpenting anak- anaknya bisa gembira meski belajar seadanya. Lambat laun, persepsi positif tumbuh sejalan jumlah murid, Senita mencapai 185 murid serta menambah saran prasarana. Dia mengakui untuk semuanya butuh uang dan kerja keras. Dia mengaku awalnya biaya masuk belajar hanya sebesar Rp.600- 800 ribu bagi murid Play Group ataupun TK cuma SPP Rp.75.000.

Saat ini, Sanita menerapkan biaya yang lebih tinggi dengan uang masuk TK Rp.2,4 juta, dan PG sebesar Rp.2,2 juta. Sedangkan SPP, TK dikenakan biaya Rp.200 ribu dan PG sebesar $175 ribu. Apa tidak terlalu mahal? Tentu tidak, ia berkata harus benar- benar memilih guru yang tepat serta program yang mumpuni. Dia dibantu oleh 23 guru yang sebelumnya hanya sendiri mengembangkan bisnisnya akhirnya ke level lebih tinggi. Bagaimana dengan tempat?

Ia berekspansi tidak hanya dari depan rumah kedua orang tuanya. Bisnisnya, PG dan TK Silmi, kini berdiri di tanah pemberian orang tua sang suami. Ia juga resmi membuka cabang PG dan TK nya di JL. KH. Wahid Hasyim. Ibu dari bu dari Nabila, Nasywa, dan Nayla ini mengatakan, omzet dari usahanya ini bisa mencapai puluhan juta per- bulan. Sebelum jagung manis, Senita mengaku ada usaha lain tetapi gagal. Dia pernah menjual obat herbal hingga kerudung.

Sejak kuliah di Fakultas Pertanian Unmul memang dirinya hobi membuat pakain islami. Dia pun mengaku semuaya terjadi tiba- tiba kerena di memang menginginkan sekolah bagi anaknya. Senita Jaya mengaku bisnis sekolahnya mengantongi omset puluhan juta perbulan.

Senin, 21 Oktober 2013

Bisnis Waralaba Taman Kanak Kanak Alternatif

Profil Pengusaha Rahmi Salviviana 



Niatnya membantu kebutuhan keluarga berbuah manis. Melalui ketekunan serta kemampuan melihat peluang, Rahmi Salviviana sukses berbisnis di bidang pendidikan. Dia yang berdomisili di Pekanbaru, Riau, melihat bahwa bisnis taman kanak- kanak sangat menjanjikan. Berbekal pengalaman pribadi, ia kini merubah arah hidupnya menjadi lebih baik. Vivi merintis usahan ini semenjak tahun 2008. Saat itu, ia menggunakan merek waralaba lokal.

Dia dulu bekerja sebagai frenchiser atau pengguna waralaba milik orang lain; itu bukan lah miliknya. Setelah dua tahun, ia akhirnya memberanikan diri membuka merek bisnis sendiri, namanya Alifa Kids, fokus pada pendidikan anak usia dini. Sekolah ini mempersentasikan visinya; amanah, loyal, integritas, fatonah, cerdas, adil, kerja sama, inisiatif, disiplin, dan santun. Ia selalu berharap anak- anak didiknya di TK Alifa Kids menjadi anak pintar dan siap masuk SD.

Baca juga: https://sejasaku.net/jasa-pembuatan-taman-di-makassar/

Lulusan hubungan internasional Universitas Riau ini mengaku, bisnisnya berawal dari keinginan membantu keluarga. Saat itu, ia sendiri mempunyai seorang putri berumur empat bulan belum masuk TK. Vivi ingin agar tetap produktif sekaligus mendidik putrinya sendiri.

Melalui Alifa Kids, ia ingin membantu orang tua yang memiliki keterbatasan waktu untuk berinteraksi dengan anaknya. Fokusnya tidak hanya Intelligence Quote (IQ), tapi bagaimana pembentukan karakter. Kesuksesan menurut Vivi 85% -nya berasal dari karakter anak itu sendiri. Dengan fokus dan konsep matang, Alifa Kids mendapatkan berbagai penghargaan. Kini Alifa Kids memiliki lebih dari 350 siswa, dimana tiap bulannya berbeda- beda.

Vivi menyediakan dua jenis pendidikan dan keduanya memiliki biaya berbeda. Untuk siswa setengah hari, orang tua membayar Rp.375.000 dan siswa satu hari penuh membayar Rp.800.000. Alifa Kids mengambil biaya tahunan Rp.4 juta- 5 juta. Usaha ibu 30 tahun in mendapatkan penghargaan Honda Youth Start Up tingkat regional dan nasional oleh Mark Plus. Bank Mandiri kemudian menghantarkan Vivi sebagai finalis nasional di Wirausaha Muda Mandiri.

Alifa Kids total memiliki 60 pegawai dibawah Alifa Management. Ia mendorong pegawainya selalu mandiri bahkan mendorong mereka berwirausaha. Mereka, pegawai Alifa Kids, sepulang mengajar mereka akan sibuk menjalankan usaha kelompok; seperti berjualan pakaian.

Wirausahawan mandiri


Rahmi Salviviani mengaku merintis bisnisnya di tahun 2008 dengan modal terbatas. Ia kala itu meminjam uang dari beberapa saudara hingga terkumpul 50 juta. Tapi, modal usaha tersebut tidak lah bertahan lama meski bisnis telah berjalan. Vivi pun memutar otak, meminta suaminya ikut membantunya hingga keluar dari pekerjaannya. Mereka berdua menjalankan bisnis tersebut bersama. Hasil Alfia Kids di awal digunakan guna balik modal, diputar kembali mengembangkan bisnisnya lebih lagi.

Mereka pun tidak segan mengikuti beberapa seminar kewirausahawan pendidikan. "Investasi terbesar kami adalah mengikuti seminar pelbagi," tuturnya. Kendati telah mendapatkan banyak pengetahuan terbukti tidak menjamin tidak adanya halangan.

Halangan itu pasti ada, membuat bisnisnya menjadi lebih baik. Yang terpenting adalah sumber daya manusia, ia tidak menganggap sepele hal tersebut. Vivi bahkan mengadakan pelatihan untuk pengajar baru. Melalui Alifa Management mencoba membentuk pribadi yang mampu membentuk pribadi siswa, serta memiliki jiwa kewirausahawan. Ia bahkan mengajarkan pegawainya sehingga mereka berbisnis setelah mengajar; seperti berjualan pakaian.

Sukses bisnis pendidikan usia dini, Vivi berencana merambah bisnis sekolah dasar. Ia berencana membuka beberapa sekolah dasar di Pekanbaru. Untuk TK sendiri, ia berharap untuk masuk lebih dalam ke penjuru Indonesia. Beberapa orang telah menawarinya berwaralaba tetapi tidak untuk sekarang- sekarang; ia merasa membutuhkan persiapan.

"Pada dasarnya, saya tidak mau merugika pihak yang tertarik untuk bermitra atau menjadi franchise Alifa Kids," ungkapnya. Sembari menuggu kesiapan, ia telah bergerak membangun sekolah dasar di Pekanbaru. Dia memperkirakan terbangun dua sampai tiga tahun lagi. Ia juga menyebut tidak boleh tergesa- gesa dalam hal berekspansi.

"Godaan untuk masuk sektor usaha lain seringnya menjadi "racun" bagi sebagian besar pengusaha terutama pemula," tuturnya. Ia yakin beberapa pengusaha gagal karena melihat bisnis lain. Dia juga percaya selalu menganggap pegawainya sebagai mitra. Oleh karena itu, sekolah harus menghargai jasa gurunya makanya bisnis tidak instant.

Bosowa Membangun Mental Erwin Aksa

Biografi Pengusaha Erwin Aksa



Bernama lengkap Erwin Aksa Mahmud lahir di Ujung Pandang, 7 Desember 1975. Ia selalu mengingat satu bahwa bisnis merupakan bagian hidupnya. Ayahnya, Aksa Mahmud, yang merupakan orang terkaya ke 34 versi Forbes di 2013, memberikan ketegasan dan disiplin tinggi. Erwin kecil marasakan itu, bukanlah sesuatu yang mudah harus ikut berkantor. Dia merasakan betul bagaimana tekanan ayahnya, sosoknya baik sebagai pengusaha dan pribadi. 

Baginya ayahnya merupakan tokoh yang inspiratif, selain pengusaha dia pernah menjabat ketua HIPMI dua kali. Erwin yang memiliki sifat suka menerima tantangan membuatnya aktif berorganisasi. Terkahir, ia tercatat sebagai ketua HIPMI dari Sulawesi Selatan mengikuti jejak ayahnya."Ya. Dengan bismiallah, memohon petunjuk dan kekuatan dari Allah; saya terima amanah ini" ujar Erwin,  ujar Erwin, penggemar otomotif dan sop konro ini.

Erwin memulai dari bawah di Bosowa Corp. Di 1997, ia memulai sebagai executive director & deputy VPD PT. Semen Bosowa Maros. Perlahan tapi pasti, dia berusaha menunjukan kemampuan terbaiknya. Erwin yang merupakan lulusan universitas Pittsburgh, Pennsylvania USA, akhirnya resmi menjadi direktur utama di PT. Bosowa Energy. Dia kemudian meneruskan karirnya sebagai pengganti ayahnya sendiri, Erwin merupakan direktur utama Bosowa Corporation.

Ayah tiga anak ini menunjukan bakat alaminya menjadi pengusaha mandiri. Melalui Bosowa, ia mampu merubah bisnis berkali- kali lipat. Bosowa Corp sebuah perusahaan yang bermula dari perusahaan di bidang perdagangan umum, CV. Moneter didirikan di Sulawesi Selatan, pada 22 Februari 1973 oleh Aksa Mahmud. Pada 1978, perusahaan ini mendapatkan hak eksklusive untuk menangani pemasaran Datsun. Merek mobil buatan dari Jepang tersebut diperuntukan untuk kawasan Indonesia Timur.

Pada tahun yang sama, di tahun 1973, Perusahaan berubah nama menjadi PT. Monetera Motor. Kesuksesan tersebut semakin menjadi dengan pengakuan lainnya. PT. Monetera Motor mendapatkan kesempatan untuk memegang merek Mitsubishi untuk wilayah Timur. Selanjutnya, perusahaan kembali berubah nama menjadi PT. Bosowa Berlian Motor, dan menjadi tonggak penting berdirinya Bosowa yang berbisnis tidak hanya mobil.

Bosowa adalah singkatan nama dari tiga kabupaten di Sulawesi Selatan, yakni Bone, Soppeng dan Wajo, semuanya wilayah Bugis. Dia yang menjadi direktur utama bukanlah karbitan, tapi benar- benar serius mengeluti bisnis. Ia mendapatkan pengkaderan secara langsung bahkan dikabarkan hingga kabur dari rumah. Tapi, malalui itu pula, Erwin belajar lobi bisnis, negoisasi, sopan santun, kepemimpinan bisnis dan sosial.

 "Saya mau fokus pada bisnis inti yang prospektif saja. Makanya, kami melakukan regrouping menjadi cukup enam bisnis inti saja. Industri kelautan saya tidak masukkan sebagai bisnis inti Bosowa. Pertambakan ikan dan udang serta rumput laut, kami jadikan sebagai usaha pengembangan masyarakat, community development, supaya keberadaan Bosowa bisa benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat," ucapnya

Bisnis sosial


Erwin sendiri diangkat menjadi ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha Indonesia), ia sangat fokal dalam hal usaha kecil dan menengah. Dia melalui HIPMI menyuarakan tentang Kredit Usaha Rakyat, yang kala itu memang sulit untuk klaimnya. Sekarang, setelah lepas dari HIPMI, Erwin diangkat menjadi wakil ketua umum Kamar Dagang Indonesia (KADIN), dan memegang bagian usaha kecil menangah (UKM).

"Salain ada kepastian, UKM kita butuh bantalan. Tapi bukan bantuan uang tunai, melainkan akses modal yang lebih mudah ke perbankan," kata Erwin disebuah pembicaran resmi, seperti dikutip dari situs Suara Pengusaha.

Karena kecintaan akan olahraga, Erwin pernah menangani sebuah klub sepakbola selepas kuliah di Amerika. Kegiatan tersebut dilakukannya disela- sela mengerjakan tugas di Bosowa. Ia sendiri sanggup, bahkan berhasil mengembangkan PSM Makasar. Ia mendirikan klub alasannya selain gemar olahraga, dia mengaku sapak bola merupakan kegemaran anak- anak di Makasar. Sepak bola bisa menjadi lifestyle di sana, sehingga ia berminat untuk menahkodainya.

Berkat pengalaman organisasi dari SMA, PSM Makasar menjadi klub yang diperhitungkan ditangannya. Erwin berhasil bahkan melebihi ketua sebelumnya. Dia berhasil membuat PSM Makasar sukses menjadi runner- up di Liga Indonesia. Lainnya, ia juga berhasil mengembalikan pamor PSM menjadi tim elit di Indonesia. Melalui olah raga inilah, ia patut mendapat apresiasi sepenuhnya.

Erwin Aksa selalu percaya semangat datangnya dari hati. Dan, keluarga mendukungnya sengat berarti bagi kehidupannya. Ayah dari Trinisha Erwin Aksa, Shyla Erwin Aksa, dan Muhammad Yusuf Akasa, mampu hingga sekarang menjadi pemimpin. Dia menjadi pemimpin tidak hanya di Bosowa hingga KADIN, tetapi menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri dan keluarga.

Rabu, 16 Oktober 2013

Sampingan Pakaian Dannis Berbuah Manis

Profil Pengusaha Tati Hartati 



Bisnis pakaian jadi memang bukan hal mudah. Disana, pengusaha harus mampu mengembangkan segmentasi tersendiri dan kreasi tinggi. Kita tau bagaimana bisnis pakaian akan terus berkembang, terutama pakaian muslim. Prospeknya besar tapi daya saing yang tinggi seolah membutuhkan sentuhan- sentuhan khusus. Salah satu contoh pengusaha sukses di pakain jadi adalah Ibu Tari. Dia juga dikenal memperkenalkan produknya melalui cara yang unik.

Tati Hartati, istri dan seorang ibu, memiliki sudut pandang berbeda mengenai bisnis pakaian. Ia memilih anak- anak sebagai segment yang saat itu kurang diminati. Dari situlah, ibu Tati mengambil sebuah kesempatan, dengan design yang ceria yang jarang ditampilkan pakaian muslim kala itu. Dengan menggunakan merek Dannis, beliau fokus menempatkan modal satu juta rupiah menghasilkan milyaran rupiah. Tati bukanlah ibu rumah tangga biasa yang cuma bergelut di dapur.

Wanita ini lulusan ITB, dan tau betul seorang pegawai memiliki waktu yang tersita banyak. Bahkan, ketika sudah menikah pun, suami memintanya berhenti dari pekerjaannya sebagai staff kantor. Nah, ketika punya waktu lebih banyak dan tak bekerja apa yang dilakukannya. Dia menekuni hobi sambil aktif mengurus anak. Fakta ia tak pernah berhenti menjahit. Ini merupakan hobinya meski masih bekerja, dan ide bisnis pakaian pun muncul dari hobinya itu.

Dia memilih bisnis yang bisa sambil mengasuh anaknya dan menjadi pengusaha merupakan pilihan. Dengan bermodal Rp.1 juta dari sang suami, ia mulai mendesain pakaian lalu menjahitnya sendiri. Mulai dari 50 potong/ bulan menjadi 5000 potong. Ibu Tati memulai dengan membuat pola desain lalu menjahitnya sendiri. Setelah selesai, dia mencoba menawarkan produknya dan ternyata diterima baik oleh pasar. Mengapa produk Dannis bisa diterima pasar?

Dannis sebagai produk pakaian muslim telah memiliki ciri khusus berbeda dari produk sejenis. Ibu Tati menambahkan berbagai unsur warna ditambah kualitas kain yang bagus. Ini membuat produk Dannis nyaman dipakai untuk ibadah tapi tetap tampil modis ketika diluar. Maka tak heran, yang semula 50 potong, produk tersebut meningkat jumlahnya tiap tahun. Ibu Tati memproduksi tidak kurang 500 potong perhari.

Ia memproduki dari mukena, jilbab, tas, peralatan sholat dan yang terkahir, Danni merambah pasar pakain dewasa. Namun produknya bisa dibilang menyasar mereka yang kelas menengah ke atas. Tidak salah, ini karena ibu Tati tidak mau mengurangi mutu kainnya. Dia memilih kainnya sendiri memasarkan melalui agen- agen resmi. Mereka memasarkan produknya hampir diseluruh Indonesia. Produk Dannis sangat diminati oleh masyarakat bukan karena harga tetapi kualitas.

Faktor lainnya, seperti warna memberikan kesan berbeda terutama bagi ibu muda. Kini, produk Dannis telah memiliki 500 agen tersebar di berbagai kota. Ibu Tati tidak tanggung dengan pakaian Dannis, ia memilih cotton ringan. Ini sejalan dengan konsep baju muslim, kita butuh sesuatu yang menenangkan ketika dipakai dalam beribadah, dan tetap indah karena Allah mencintai keindahan.

Baca juga: Layanan Jasa Pertukangan Online